DBS Group Research: Kenaikan Upah Minimum Perlu Diawasi

DBS Group Research: Kenaikan Upah Minimum Perlu Diawasi

Inflasi pada September, yang mewakili dampak langsung kenaikan harga bahan bakar bersubsidi sebesar 30%, mendekati angka 5,95% secara tahunan, dengan inflasi keseluruhan belum mencapai puncak. Selain itu dari sisi produksi, seperti, bahan bakar dan pangan, biaya tenaga kerja, termasuk upah minimum, akan menentukan kekuatan tekanan harga.

DBS Group Research menggarisbawahi perbedaan pertumbuhan upah riil dengan nominal. Dari empat data berbasis pekerjaan dengan pemasukan rendah, upah harian pekerja konstruksi (basis nominal) meningkat rata-rata 1,3% secara tahunan antara Januari hingga September 2022. Di basis riil, yang disesuaikan dengan inflasi, upah menyusut rata-rata 2,4% pada masa sama.

Baca juga: Strategi Indonesia Cegah Imbas Ketidakpastian Perekonomian Global

Dengan mempertimbangkan kesenjangan besar itu, arah kenaikan upah minimum regional (UMR) pada 2023 diperkirakan menjadi hal penting, terutama setelah kenaikan lumayan pada tahun ini. UMR Jakarta saat ini 1,6 kali lipat dari rata-rata nasional, menyumbang 55% terhadap kenaikan secara keseluruhan.

Pemerintah diperkirakan mengumumkan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2023 pada pertengahan November, setelah setiap kabupaten/kota menyesuaikan upah minimum mereka pada akhir bulan, Dewan Pengupahan Nasional diharapkan membenahi tingkat upah berdasarkan atas rumus yang dimasukkan ke UU Cipta Kerja.

Baca juga: Bank Indonesia Kembali Naikkan BI7DRR 50 Bps Menjadi 4,75%

Setelah kenaikan di bawah 2% pada 2022, kelompok perwakilan tenaga kerja menyerukan peningkatan lebih tinggi pada 2023. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dilaporkan menuntut kenaikan 13%, didasarkan atas harga bahan bakar 7-8% dan pertumbuhan ~4,8%. DBS

DBS Group Research meramalkan kenaikan 9-10%, mendekati rata-rata 8,8% untuk masa sebelum pandemi, yaitu 2018-2019. Alasan lain, untuk kenaikan lumayan besar itu termasuk kebutuhan untuk mengimbangi tingkat inflasi, yang meningkat sejak paruh kedua 2022 (dan kemungkinan berimbas ke 2023).

Baca juga: DBS CIO Insights: 8 Fakta Penting tentang Investasi Triwulan IV 2022

Kebutuhan mendukung konsumsi karena dorongan pembukaan kembali setelah pandemi kian melemah, menjelang pemilihan umum pada Februari 2024. Kenaikan lebih besar juga membawa dampak inflasi ikutan kedua, terutama karena kenaikan harga akibat kenaikan harga BBM terus merambah ke segmen harga.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 25, 2022, 7:55 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.