Inilah 3 Kunci Pendorong Pertumbuhan Berkelanjutan BRI

Inilah 3 Kunci Pendorong Pertumbuhan Berkelanjutan BRI

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI optimistis potensi pertumbuhan ke depan yang didorong oleh tiga aspek. Pertama, sumber pertumbuhan baru yang jelas. Kedua, kapital yang cukup, dan yang ketiga likuiditas yang memadai. Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan, melalui Holding Ultra Mikro, perseroan memastikan sumber pertumbuhan baru akan terus bertambah.

“Sumber pertumbuhan baru dibangun melalui dibentuknya sinergi ekosistem ultra mikro dengan memasukkan PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam BRI Group. Jadi, syarat pertama memiliki kejelasan sumber pertumbuhan baru,” ujarnya dalam acara diskusi EMITALK BBRI 2022 pada akhir Agustus 2022.

Baca juga: Kinerja Tengah Tahun, BRI Cetak Laba Bersih Rp24,88 Triliun

Mengacu pada data BRI Group sebagai induk Holding Ultra Mikro per Juni 2022, terdapat sekitar 45 juta potensi nasabah ultra mikro yang dapat diberdayakan. Adapun 15 juta di antaranya sudah dapat mengakses lembaga pembiayaan formal.

Kemudian syarat pertumbuhan yang kedua, lanjut Sunarso, BRI memiliki kapital yang cukup. CAR bank terbesar di Tanah Air ini per semester I-2022 sekitar 25%, naik 20% secara tahunan. Seperti diketahui, CAR atau Capital Adequacy Ratio adalah rasio kecukupan modal untuk menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi oleh perbankan.

Baca juga: Aplikasi BRImo Catat Kenaikan Jumlah Transaksi 136,5%

Menurut Sunarso, persentase CAR saat ini membuat posisi keuangan BRI aman sehingga BRI punya keleluasaanmenurunkan CAR dari level 25% saat ini ke level yang optimal di kisaran 16%-18%. “Maka 2-3 tahun ke depan BRI tidak perlu menambah modal. Justru BRI perlu mengoptimalkan modal dengan cara bertumbuh,” ujarnya penuh optimisme.

Lalu syarat pertumbuhan ketiga adalah ketersediaan likuiditas yang mumpuni. Dengan kecukupan likuiditas tersebut, BRI mampu menekan Cost of Fund (CoF) di kisaran 1,7%. CoF tersebut merupakan yang terendah, setidaknya sejak 2019.

Baca juga: Ekonom DBS Perkirakan Suku Bunga Acuan BI Naik hingga 4,75%

Pada 2019, angkanya sekitar 3,6%, pada 2020 ditekan menjadi 3,2%, dan pada 2021 sekitar 2,1%. Sunarso mengungkapkan hal tersebut menunjukkan bahwa transformasi BRI semakin kuat, terutama dari struktur liabilitasnya sehingga mampu mempertebal ketersediaan likuiditas.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Sept. 7, 2022, 8:02 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.