Kisah Batik Al-Warits Dan Pijakbumi, Dua Bisnis Berkonsep Sustainable Fashion

Kisah Batik Al-Warits Dan Pijakbumi, Dua Bisnis Berkonsep Sustainable Fashion

Hasil riset Katadata, produk fashion menjadi kata kunci paling banyak dicari di e-commerce hingga mencapai angka 71 persen. Namun, di balik potensi industri ini ada banyak pekerjaan besar yang harus diperhatikan para pelaku bisnis fashion.

Di antaranya adalah soal limbah fashion, proses pembuatan produk, bahkan isu eksploitasi pekerja. Seakan hadir sebagai salah satu solusi, sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan pun kini mendapat tempat istimewa di hati konsumen.

Edric Chandra selaku Program Initiator Diplomat Success Challenge (DSC) mengatakan bahwa saat ini masyarakat semakin terbuka pandangannya akan apa yang dikonsumsi, di mana fashion termasuk di dalamnya. Kesadaran global atas gentingnya isu kerusakan lingkungan dan isu sosial lainnya pun semakin terekspos.

Baca juga: Sustainable Fashion Tidak Hanya Soal Lingkungan

"Sustainable fashion menjadi salah satu gerakan yang lahir dari kesadaran sebagai responsible consumer yang bukan hanya memakai tapi juga turut melindungi dan menjaga lingkungan sekitar. Kesadaran ini pun akan terus berkembang seiring dengan pemikiran untuk terus mengejar tujuan keberlanjutan,” tuturnya.

Berikut ini, kisah Batik Al-Warits dari dan Pijakbumi sebagai dua contoh bisnis yang mengusung konsep sustainable fashion.

Batik Al-Warits

Batik Al-Warits merupakan produk batik yang mengeluarkan aroma wangi-wangian rempah dan bunga dari kainnya. Aroma wangi dari kain batik ini menggunakan minyak Camplong khas Madura dengan teknik perendaman sebanyak 4 kali sehingga aroma wanginya menyatu dengan kain dalam waktu yang lama.

Semakin lama proses pengaromaterapiannya, semakin lama wanginya bertahan. Aroma wangi ini bertahan 1 bulan hingga 4 tahun meski batik sudah dicuci berulang-ulang. Selain itu, Warisatul Hasanah sebagai founder juga menerapkan praktik kerja yang sehat dengan memberdayakan perajin batik di Madura sebagai pekerjanya.

Baca juga: Dukung Sustainable Fashion, Andien Mendirikan Yayasan Setali

“Prinsip keberlanjutan yang diterapkan pada Batik Al-Warits semakin disempurnakan sejak saya mengikuti DSC di tahun 2015, sehingga sampai saat ini Batik Al-Warits tetap eksis menjalankan bisnis yang sustainable. Tidak hanya menjaga lingkungan dan mengurangi limbah fesyen, tapi juga bisa terus memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat sekitar,” tutur Warisatul Hasanah, Founder Batik Al-Warits.

Pijakbumi

Hal senada juga dilakukan oleh Pijakbumi yang memproduksi alas kaki berbahan ramah lingkungan. Vania Audrey Pakpahan sebagai Co-Founder Pijakbumi merupakan finalis DSC 2021 di mana brand lokal ini melejit lewat konsep sustainable fashion.

Pijakbumi secara konsisten terus memberdayakan konsumennya untuk lebih bijak mengonsumsi energi sebagai bagian dari menjaga sumber daya alam. Vania mengemukakan bahwa kesuksesan Pijakbumi saat ini adalah buah nyata dari konsistensi mengusung konsep eco-friendly dalam setiap inovasi produknya. 

Baca juga: Cerita Batik Mawar Putih Menembus Pasar Dunia

“Konsistensi adalah yang kita usung di sini. Artinya, desain yang orisinil dikawinkan dengan ‘keras kepala’ nya kami dalam menggunakan material ramah lingkungan. Tidak mudah, namun konsistensi ini mendapat tempat tersendiri di tengah persaingan produsen sepatu,” ungkap Vania.

Pijakbumi menjadi brand sepatu yang cukup digandrungi, apalagi setelah dihantam pandemi selama 2 tahun ini semakin banyak orang yang peduli dengan lingkungan, terutama bagaimana caranya mengurangi emisi karbon.

 


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Aug. 29, 2022, 8:39 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.