Menilik Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed Terhadap Ekonomi Indonesia

Menilik Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed Terhadap Ekonomi Indonesia

The Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,5%. Selain itu, The Fed juga menargetkan suku bunga dana federal berada di kisaran 0,75% hingga 1%.

Kebijakan tersebut ditempuh untuk menetralisir kondisi inflasi AS, dimana pada Maret 2022 kenaikan year on year (yoy) inflasi AS telah mencapai 8,4 persen atau rekor tertinggi dalam 41 tahun terakhir.

Sebagai upaya lanjutan, selain kenaikan suku bunga, The Fed juga berencana menyusutkan neraca gemuk mereka yang sudah menyentuh US$9 triliun mulai 1 Juni 2022 mendatang.

Kenaikan suku bunga ini tentunya berdampak pada perekonomian Indonesia. Dengan naiknya suku bunga The Fed, Bank Indonesia (BI) tentu akan mengikuti dengan menaikkan suku bunga acuannya. 

Hal ini akan memicu terjadinya tekanan ekonomi di Indonesia karena konsumen belum siap menghadapi kenaikan suku bunga. 

Pasalnya, kenaikan suku bunga The Fed akan meningkatkan beban masyarakat Indonesia, di mana bunga KPR, bunga kredit kendaraan bermotor, hingga bunga pinjaman modal usaha akan mengalami kenaikan juga.

Menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, kebijakan suku bunga The Fed akan mendorong larinya aliran modal dari negara berkembang termasuk Indonesia ke AS.

Hal itu memungkinkan terjadinya capital outflow dimana rupiah akan semakin melemah. Bila rupiah melemah, beliau menjelaskan maka beban utang pemerintah akan meningkat karena banyaknya utang pemerintah dalam bentuk mata uang asing. 

Johanna Gani, CEO Grant Thornton Indonesia mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed tentunya akan memberikan dampak kepada Indonesia, salah satunya pada nilai tukar rupiah, di mana rupiah akan terdepresiasi atau melemah. 

“Akan tetapi, kekuatan nilai tukar tidak hanya dapat ditentukan oleh faktor global namun juga fundamental ekonomi suatu negara,” katanya dalam keterangan pers yang diterima Duitologi. 

Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah dan Bank Indonesia harus bersiap diri. Di sisi APBN, pelemahan rupiah dapat membebani pembayaran hutang dan obligasi dalam dolar. 

Sedangkan dari sisi moneter BI harus dapat menjaga volatilitas dan arus modal asing sehingga pelemahan rupiah dapat tertahan pada level yang masih tergolong aman. 

“Pemulihan ekonomi dan kuatnya fundamental Indonesia akan tetap menjadi penopang pasar saham dan obligasi Indonesia ke depannya,” tutup Johanna. 


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
June 7, 2022, 5:14 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.