DBS Group Research: Ekonomi Indonesia 2022 Siap-siap Lepas Landas

DBS Group Research: Ekonomi Indonesia 2022 Siap-siap Lepas Landas

Situasi pandemi yang terkendali dan peluncuran vaksinasi sesuai target diharapkan dapat mempercepat normalisasi kegiatan ekonomi Indonesia pada 2022. DBS Group Research menyoroti empat faktor yang harus diperhatikan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022.

Pertama, momentum pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi tahun depan. Kedua, kebijakan fiskal dan moneter berada di jalur tepat untuk secara bertahap mengendurkan bias akomodatifnya. Ketiga, walau sudah kuat dan tersangga dengan baik, keseimbangan eksternal kemungkinan akan lebih baik. Keempat fokus pada sektor komoditas hilir dan infrastruktur.

1. Dinamika Pertumbuhan dan Inflasi

Memasuki 2022, dengan asumsi situasi Covid-19 terkendali akan membuka peluang untuk normalisasi lebih lanjut dalam pengeluaran non esensial, peningkatan lapangan pekerjaan, produksi, dan pertumbuhan investasi.

Dengan asumsi normalisasi kegiatan, yang diharapkan berbarengan dengan percepatan permintaan domestik, DBS Group Research mematok perkiraan PDB 2022 sebesar 4,8 persen, naik dari perkiraan tahun ini, yang sebesar 3,6 persen.

Baca juga: Mampukah Ekonomi Indonesia Bangkit Pada 2022?

Total inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tahun 2021 kemungkinan rendah, rata-rata sebesar 1,5 persen, di bawah target bank sentral. Ini disebabkan oleh peningkatan harga akibat harga komoditas tinggi yang belum terefleksi secara keseluruhan dan diimbangi dengan harga makanan dan jasa yang terkendali serta permintaan yang masih di bawah normal.

“Kenaikan inflasi tahun depan akan ditentukan oleh banyak faktor. Kami memperkirakan inflasi 2022 rata-rata sebesar 3 persen walau masih dalam target BI, yang sebesar 2-4 persen,” tulis DBS Group Research berjudul Prospek Ekonomi Indonesia 2022: Bersiap-siap untuk lepas landas.

2. Kebijakan Fiskal dan Moneter

Di sisi kebijakan moneter, di mana suku bunga telah mencapai titik terendah, Pemerintah serta pengambil kebijakan kemungkinan akan memantau perkembangan dan mempertahankan aset domestik dari dampak perubahan kebijakan global.

Perkiraan DBS Group Research lebih condong ke jalur konservatif, yaitu kenaikan sebesar 25bps pada akhir 2022, kemudian sebesar 75bp (basis points) pada 2023, untuk mempertahankan nilai tukar dan memastikan stabilitas keuangan.

Namun demikian, apabila Bank Sentral AS lebih agresif maka Bank Indonesia mungkin akan meningkatkan suku bunga acuannya 25bp lebih besar dari skenario dasar DBS Group Research pada paruh kedua 2022.

Kemudian, DBS Group Research menilai konsolidasi fiskal tetap berada di jalur yang tepat. Neraca fiskal membaik berkat perolehan non-pajak yang kuat, penghasilan tak terduga dari pajak, dan laju pengeluaran yang bertahap.

“Kami melihat potensi pengurangan defisit fiskal 2022 sebesar 50bp dari perkiraan kami, yang sebesar -4,5 persen dari PDB. Ada kemungkinan defisit dapat kembali ke batas sebelumnya, sebesar 3 persen dari PDB, pada 2023. Lembaga pemeringkat optimistis tentang kesehatan fiskal Indonesia mengingat rekam jejaknya, yang positif,” papar DBS Group Research.

3. Penyangga Eksternal

Dibandingkan dengan taper tantrum AS pada 2013 dan gejolak yang diakibatkannya, keseimbangan eksternal Indonesia kali ini berada dalam kondisi lebih baik. Pertama, posisi neraca berjalan tetap terjaga dengan baik berkat perolehan yang kuat, yang didorong oleh komoditas di sektor perdagangan, yang telah membantu mengatasi penurunan penerimaan dari sektor pariwisata.

Kedua, cadangan devisa berada di rekor tertinggi, membuat cadangan devisa untuk pembiayaan impor lebih tinggi dari ketentuan, yang sebesar tiga bulan impor, melebihi utang luar negeri jangka pendek dan diberi peringkat memadai di metrik ARA IMF. Ketiga, pergeseran kepemilikan obligasi pemerintah yang belum lunas dapat dianggap sebagai perkembangan positif.

Baca juga: Varian Covid-19 Omicron dan Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia

4. Katalis Jangka Menengah

Di luar prioritas mendesak, dua bidang kemungkinan akan menjadi fokus dalam beberapa tahun ke depan, yaitu:

● Perluasan sektor komoditas hilir

Untuk meningkatkan manfaat karena Indonesia memiliki cadangan mineral dan juga sebagai eksportir terbesar dunia dalam berbagai komoditas termasuk bijih nikel, timah, tembaga, emas, dan minyak kelapa sawit, pemerintah telah melakukan upaya untuk meningkatkan nilai tambah dalam mata rantai produksi dengan memperluas kehadiran dalam industri hilir dalam dasawarsa terakhir.

Strategi ini sedang dihidupkan kembali, dengan otoritas mengisyaratkan penghentian ekspor sebagian besar komoditas mentah dan mendorong investasi ke industri pengolahan sumber daya dalam negeri.

● Mempercepat pembangunan infrastruktur

Pembangunan infrastruktur kemungkinan akan tetap menjadi prioritas, terlepas dari jalur konsolidasi fiskal yang lebih luas. Pengeluaran fiskal untuk infrastruktur diperkirakan berkurang menjadi Rp366 triliun pada tahun depan dari yang dianggarkan pada tahun ini, sebesar Rp417 triliun.

Namun, alokasi lebih besar telah disalurkan ke perusahaan milik negara yang beroperasi di sektor ini, yang akan memperkuat neraca mereka, selain meningkatkan pengeluaran untuk kesehatan. Posisi pendapatan lebih kuat dapat membantu pemerintah meningkatkan alokasi untuk tujuan ini sepanjang 2022.

Baca juga: Industri Pariwisata Indonesia Diprediksi Pulih pada 2022

Terkait kurs mata uang rupiah, DBS Group Research berpandangan, dengan mengecualikan guncangan akibat varian Covid Omicron dan pengetatan moneter AS yang lebih agresif, memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap di kisaran Rp14.000-Rp15.000 pada 2022 dan 2023.

“Pada 2022, nilai tukar rupiah diperkirakan akan mnguat secara global setelah kenaikan suku bunga Bank Sentral AS sebanyak dua kali, yang diperkirakan akan terjadi pada triwulan keempat 2022. Namun, kenaikan suku bunga BI sebanyak tiga kali antara triwulan keempat 2022 dan triwulan kedua 2023 seharusnya meredam tekanan depresiasi terhadap rupiah

DBS Group Research memprediksi akan ada peningkatan gejolak nilai tukar rupiah pada paruh pertama 2022. Peluang untuk menjaga agar pengaturan kebijakan tetap longgar mengecil. Bank Sentral AS dapat mengakhiri program QE-nya pada triwulan petama dan mulai menaikkan suku bunga acuannya pada pertengahan 2022. Jika ini terjadi, perbedaan antara kebijakan BI dan Bank Sentral AS dapat mengakibatkan gejolak.

“Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa BI kemungkinan akan memainkan peran lebih kecil dalam menekan suku bunga/imbal hasil rupiah. Kami berpendapat bahwa kelebihan likuiditas mungkin telah mencapai puncaknya karena investor memperhitungkan kemungkinan Bank Sentral AS menjadi lebih agresif. Ekspektasi kenaikan BI pada paruh kedua 2022 juga akan mulai muncul menjelang kurva IndoGB,” papar DBS Group Research.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Dec. 28, 2021, 9:49 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.