Mampukah Ekonomi Indonesia Bangkit Pada 2022?

Mampukah Ekonomi Indonesia Bangkit Pada 2022?

Optimisme Bank Indonesia (BI) akan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 yang berkisar 4,7-5,5 persen disambut baik oleh Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao. Hal itu disampaikan Radhika dalam DBS eTalk Series bertajuk “2022 Leap Ahead: Economy Reopening & Strategic Sector Rotation”, Kamis (16/12/2021).

Radika menyebut bahwa program vaksinasi merupakan salah satu kunci dari keberhasilan penanganan pandemi di Indonesia. Dengan terlaksananya program vaksinasi secara masif dan terstruktur, mobilitas masyarakat akan meningkat dan hal ini memicu aktivitas perekonomian untuk mulai berjalan kembali.

“Jika dapat terus dipertahankan, ekspektasi pemulihan ekonomi, serta pergerakan komponen lain seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, hingga ekspor dan impor dapat berjalan sesuai harapan,” tutup Radhika.

Baca juga: BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2022 Sebesar 4,7-5,5 Persen

Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Kementerian Keuangan Yustinus Prastowo mengungkapkan, disahkannya asumsi dasar ekonomi makro pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2022 menjadi tolok ukur pemerintah Indonesia dalam menyongsong perekonomian di tahun 2022.

Terdapat empat poin penting yang disepakati oleh pemerintah dan DPR yang akan menjadi dasar penentuan RAPBN. Pertama, pertumbuhan ekonomi disepakati berada di kisaran 5,2-5,5 persen. Kedua, laju inflasi ditetapkan 3 persen. Ketiga, nilai tukar rupiah ditentukan untuk tidak lebih dari Rp14.350 per dollar Amerika Serikat, dan terakhir, tingkat suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun 2022 ditetapkan sebesar 6,8 persen.

Yustinus memaparkan, Pemerintah Indonesia juga menyetujui sejumlah langkah perpajakan. Langkah-langkah itu ditujukan untuk mengkompensasi penerimaan yang melemah dan kebutuhan pengeluaran lebih tinggi karena pandemi. Dengan adanya asumsi dasar ekonomi makro RAPBN dan langkah-langkah ini, memperbesar kemungkinan masyarakat Indonesia untuk mengoptimalkan peluangnya dalam berinvestasi.

Baca juga: 3 Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2022, Apa Saja?

Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengungkapkan, sebagai produsen besar dari berbagai komoditas penting dunia, Indonesia menyediakan natural hedge yang menjadi penyelamat ekonomi di tengah terjadinya inflasi tinggi di berbagai kawasan.

“Indonesia juga memiliki structural stories yang sehat, berbeda dengan banyak negara di Asia yang mengalami peningkatan rasio utang dan jumlah penduduk memasuki usia lanjut. Beberapa hal tersebut ikut meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia, di tengah tren diversifikasi oleh investor yang dipicu masalah geopolitik serta pandemi,” ungkapnya.

Katarina menambahkan, aliran dana asing telah kembali masuk ke pasar saham, bahkan semakin kuat menjelang pengetatan moneter The Fed. Indonesia akan bertumbuh karena pembukaan kembali perekonomian pada tahun 2022.

Baca juga: Ekonomi Indonesia Triwulan III 2021 Tumbuh 3,51 Persen

“Sedang terjadi rotasi sektoral, dan kami melihatnya sebagai fenomena yang wajar didukung oleh membaiknya situasi pandemi dalam negeri. Ekonomi digital juga masih sangat menarik dengan prospek pertumbuhan kuat, terutama didukung oleh potensi inklusi pada indeks saham global,” tambahnya.

Sektor teknologi, green economy, dan telekomunikasi tetap menjadi sektor pilihan. Sementara itu, pasar obligasi dinilai siap dalam menghadapi perubahan sentimen global. Fundamental makro yang lebih baik dan stabilitas eksternal yang terus diperkuat diharapkan dapat menjaga volatilitas pasar obligasi Indonesia. Manulife Aset Manajemen Indonesia memiliki pandangan yang positif terhadap pasar modal di tahun 2022.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Dec. 17, 2021, 9:09 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.