3 Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2022, Apa Saja?

3 Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2022, Apa Saja?

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 akan mencapai 4,7-5,5 persen dari 3,2-4,0 persen pada 2021. Hal itu disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2021.

Optimisme Bank Indonesia terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 yang berkisar 4,7-5,5 persen disambut baik oleh Senior Economist DBS Bank Radhika Rao. Menurutnya, terdapat tiga hal penting yang dapat memicu terjadinya peningkatan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2022.

Pertama, Indonesia diprediksi akan berhasil memberikan dosis vaksin penuh kepada 99 persen dari total populasi dewasa pada bulan Maret 2022. Kedua, kemungkinan Indonesia yang akan menawarkan lebih banyak investasi dan bergerak pada sektor komoditas hilir serta akselerasi digitalisasi, akan mengembalikan pada pertumbuhan yang stabil.

Baca juga: BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2022 Sebesar 4,7-5,5 Persen

“Ketiga, laporan fiskal Indonesia yang memuaskan dan langkah-langkah untuk mengurangi pajak pada ratio GDP akan memperkuat rasio utang dibandingkan negara lain di Asia,” kata Radhika dalam paparan market outlook bertajuk “2022 Leap Ahead: Economy Reopening & Strategic Sector Rotation”, Kamis (2/12/2021).

Radhika juga menyampaikan bahwa program vaksinasi merupakan salah satu kunci dari keberhasilan penanganan pandemi di Indonesia. Dengan terlaksananya program vaksinasi secara masif dan terstruktur, mobilitas masyarakat akan meningkat dan hal ini memicu aktivitas perekonomian untuk mulai berjalan kembali.

Indonesia merupakan salah satu negara yang berhasil melewati masa kritis pandemi di kuartal IV 2021 berkat pengurangan asumsi ketidakpastian terhadap pasokan vaksin. Jika dapat dipertahankan, ekspektasi pemulihan ekonomi, dan pergerakan komponen lain seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, hingga ekspor dan impor dapat berjalan sesuai harapan.

Baca juga: November 2021, BI 7-Day Reverse Repo Rate Tetap 3,50 Persen

Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Kementerian Keuangan Yustinus Prastowo mengungkapkan, disahkannya asumsi dasar ekonomi makro pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2022 menjadi tolok ukur pemerintah Indonesia dalam menyongsong perekonomian di tahun 2022.

Terdapat empat poin penting yang disepakati oleh pemerintah dan DPR yang akan menjadi dasar penentuan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Pertama, pertumbuhan ekonomi disepakati berada di kisaran 5,2 persen hingga 5,5 persen.

Kedua, laju inflasi ditetapkan 3 persen. Ketiga, nilai tukar rupiah ditentukan untuk tidak lebih dari Rp14.350 per dollar Amerika Serikat, dan terakhir, tingkat suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun 2022 ditetapkan sebesar 6,8 persen.

Baca juga: Rumah.com: Harga dan Suplai Hunian Masih Tetap Naik

Selain itu, Yustinus memaparkan, Pemerintah juga menyetujui sejumlah langkah perpajakan. Langkah-langkah itu ditujukan untuk mengkompensasi penerimaan yang melemah dan kebutuhan pengeluaran lebih tinggi karena pandemi.

“Dengan adanya asumsi dasar ekonomi makro RAPBN dan langkah-langkah ini, memperbesar kemungkinan masyarakat Indonesia untuk mengoptimalkan peluangnya dalam berinvestasi,” ungkapnya.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Dec. 3, 2021, 11:01 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.