Cegah Cyber-Crime, Xendit Bentuk Tim Pencegahan Penipuan

Cegah Cyber-Crime, Xendit Bentuk Tim Pencegahan Penipuan

Pesatnya teknologi digital memberi peluang terjadinya penipuan pembeli dan kebocoran data kosumen (cyber-crime). Perusahaan teknologi finansial (fintech), Xendit mulai membangun tim pencegahan penipuan yang akan memblokir transaksi-transaksi tidak wajar.

Menurut Senior Engineering Manager Xendit Theo Mitsutama, tim pencegahan penipuan ini akan memblokir transaksi-transaksi tidak wajar secara otomatis. Baik penjual dan pembeli bisa bertransaksi dengan tenang, aman, dan mudah dengan lebih dari 20 metode pembayaran yang ditawarkan Xendit.

“Keamanan data dan transaksi adalah prioritas utama Xendit, terutama karena peran kami sebagai jembatan pembayaran digital,” kata Theo dalam keterangan resminya yang diterima Duitologi, Selasa (29/11/2021).

Baca juga: Tips Menjaga Kerahasiaan dan Keamanan Data Konsumen

Theo menegaskan, Xendit berkomitmen untuk menjalankan Fraud Education Campaign yang harapannya dapat mengedukasi masyarakat dan membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan. Xendit berharap dapat berkontribusi lebih dalam upaya mengurangi penipuan online dan kejahatan siber di Indonesia.

Secara internal, Xendit sendiri secara berkala memberikan pelatihan dan simulasi phising bagi karyawan Xendit dalam program Xendit School for Security. Edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya keamanan yang kuat sangat penting untuk diterapkan agar setiap karyawan mengetahui tanggung jawab, ekspektasi perusahaan dari peran setiap individu dan membantu melindungi keamanan pengguna.

Harus diakui, penigkatan sector pembayaran digital yang pesat ini juga diikuti dengan beberapa konsekuensi, seperti maraknya penipuan pembeli, kebocoran data sensitif, atau lebih dikenal dengan istilah cyber-crime.

Baca juga: Waspada Kejahatan Siber Modus Rekayasa Sosial di Masa Pandemi

Berdasarkan survei Cybersecurity Exposure Index (ICE) 2020, indeks kejahatan siber di Indonesia saat ini mencapai 0,62. Nilai tersebut lebih tinggi dari rata-rata global yang berkisar 0,54. Hal ini menjadi catatan penting bagi para pelaku bisnis, perbankan, dan industri finansial untuk meningkatkan keamanan siber.

Terlebih lagi peningkatan pengguna layanan internet di Indonesia sangat pesat. Mengutip pernyataan Menkoinfo pada Oktober 2021, terdapat peningkatan pengguna layanan internet yang mencapai 202,6 juta orang per Januari 2021. Di samping itu, pengguna layanan digital di Indonesia juga mengalami pertumbuhan sebesar 37 persen selama pandemi Covid-19.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Dec. 1, 2021, 9:48 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.