Rumah.com: Harga dan Suplai Hunian Masih Tetap Naik

Rumah.com: Harga dan Suplai Hunian Masih Tetap Naik

Kebijakan pemerintah yang menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada awal Q3 2021 lalu sempat menyebabkan perlambatan ekonomi, namun industri properti di Tanah Air masih terus melaju bergerak seiring dengan pemulihan perekonomian nasional secara keseluruhan.

Marine Novita, Country Manager Rumah.com mengungkapkan data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI) Q4 2021 menunjukkan adanya kenaikan harga properti pada semua tipe properti. Insentif pembelian baru dari pemerintah juga turut mendorong konsumen untuk mencari hunian idaman mereka sesegera mungkin.

Situasi yang semakin membaik ini pun membuat pengembang merasa lebih optimistis menghadapi prospek industri properti ke depan. “Setelah pengembang sempat mengurangi suplai demi menghabiskan stok hunian yang ada, kini pembangunan rumah tapak dan apartemen kembali ditingkatkan,” katanya.

Baca juga: https://duitologi.com/articles/2021/09/29/empat-alasan-mengapa-harus-punya-asuransi-properti/

Menurutnya, konsumen juga tidak lagi merasakan ketakutan dan menghindari area pusat kota yang cenderung lebih padat. Pasar properti di wilayah metropolitan tampaknya tengah mencari keseimbangan baru, menyesuaikan preferensi konsumen yang kembali berubah setelah pandemi mulai terasa mereda.

Rumah.com Indonesia Property Market Index pada kuartal ketiga 2021 mencatat indeks harga properti hunian mengalami kenaikan sebesar 1,80 persen secara kuartalan. Pertumbuhan kenaikan harga properti pada kuartal ketiga 2021 sedikit mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan kenaikan pada kuartal sebelumnya Q2 2021 yaitu sebesar 2,24 persen secara kuartalan.

Berdasarkan jenis propertinya, rumah tapak dan apartemen masing-masing mengalami peningkatan sebesar 1,81 persen dan 0,84 persen dibanding kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter). Adapun secara tahunan (year-on-year), harga properti secara keseluruhan mengalami kenaikan sebesar 3,24 persen, di mana harga rumah tapak naik 4,39 persen, sementara harga apartemen turun 2,57 persen.

Baca juga: Insentif Pajak Properti Dorong Pertumbuhan KPR & KPA

Melambatnya kenaikan harga properti hunian ini sepertinya disebabkan oleh melimpahnya suplai pada kuartal ketiga 2021 dimana indeks suplai mengalami kenaikan sebesar 9,58 persen secara kuartalan. Sebelumnya, indeks suplai properti sempat mengalami penurunan sebesar 2,13 persen secara kuartalan pada Q2 2021.

Sementara jika dilihat dari jenis propertinya, indeks suplai rumah tapak meningkat sebesar 9,44 persen secara kuartalan sedangkan apartemen naik sebesar 7,31 persen secara kuartalan. Pertumbuhan harga dan suplai ini tampaknya didorong oleh kondisi perekonomian nasional dan insentif serta kebijakan pemerintah terhadap sektor properti yang terus berjalan.


Marine menambahkan jika melihat data hasil Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia, secara kuartalan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada Kuartal Ketiga 2021 tumbuh terbatas. IHPR pada Q3 2021 tercatat tumbuh sebesar 0,34 persen (quarter-to-quarter), lebih rendah dibandingkan 0,45 persen (quarter-to-quarter) pada Q2 2021.

“Tren kenaikan harga properti pada kuartal ketiga 2021 yang tumbuh secara terbatas menurut hasil Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia tersebut sejalan dengan data dari Rumah.com Indonesia Property Market Index yang juga menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan kenaikan harga properti jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya,” jelas Marine.

Selain menyebabkan perlambatan pertumbuhan kenaikan harga properti, pelaksanaan PPKM Darurat pada awal Q3 2021 juga berdampak pada menurunnya tren pencarian properti di situs Rumah.com. Indeks pencarian pada kuartal ketiga 2021 turun sebesar 3,87 persen secara kuartalan.

Penurunan paling besar terlihat pada segmen properti dengan harga di bawah Rp 1 miliar dimana pada Q2 2021, 57 persen pengunjung Rumah.com menyasar hunian pada kisaran harga tersebut, namun pada Q3 2021 turun menjadi 48 persen.

Baca juga: Ada 74 Persen Masyarakat Indonesia Tidak Punya Rumah

Marine menyimpulkan bahwa sesuai data RIPMI Q3 2021 terjadi kenaikan harga properti di seluruh segmen yang bersamaan dengan peningkatan suplai yang cukup signifikan. Merebaknya virus Covid-19 varian Delta pada pertengahan tahun 2021 menyebabkan penerapan PPKM Darurat pada Juli 2021 berdampak negatif terhadap optimisme pasar yang sempat terganggu.

“Kemampuan konsumen dari kalangan menengah ke bawah pun menurun, hal ini terlihat dari turunnya tren pencarian hunian khususnya untuk properti di kisaran harga di bawah Rp1 miliar,” ungkapnya.

Pemerintah pun juga terus mendorong industri properti di tanah air dengan serangkaian kebijakan dan stimulus. Insentif pembebasan Pajak Penambahan Nilai (PPN) properti diperpanjang hingga Desember 2021, diikuti dengan perpanjangan kebijakan uang muka alias down payment (DP) nol persen diteruskan sampai Desember 2022.

Baca juga: Bank Mandiri Luncurkan Aplikasi Rumah Idamanku (RIKu)

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI7DRR sebesar 3,5 persen pada November 2021. Di sisi lain, sejumlah pemerintah daerah memberlakukan insentif tambahan berupa diskon Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Sehingga secara umum pasar properti masih berpihak kepada konsumen.

"Pasar properti masih berada dalam kondisi buyer’s market. Kendati tren harga properti mulai meningkat, bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sendiri masih berada di angka yang paling rendah dalam lima tahun terakhir. Pemerintah juga masih memberikan cukup banyak insentif dan stimulus untuk membantu masyarakat dalam meringankan biaya transaksi pembelian properti," pungkas Marine.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Nov. 29, 2021, 11:36 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.