Peran Kecerdasan Buatan di Masa Depan Industri Perbankan

Peran Kecerdasan Buatan di Masa Depan Industri Perbankan

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) siap menyuguhkan pengalaman pribadi dan membentuk ulang dunia perbankan kontemporer, demikian bunyi laporan terbaru Mambu, sebuah platform perbankan SaaS terkemuka, dan Google Cloud.

Buku putih ‘Bank Masa Depan’ mengidentifikasi bentuk perbankan yang hadir di mana-mana sebagai garis batas revolusi berikutnya dalam bidang keuangan digital dan mengungkap tiga unsur utama yang menciptakan masa depan perbankan.

Pertama, strategi berorientasi pelanggan. Wujud konkretnya adalah produk dan layanan yang lahir dengan konsep dari pelanggan untuk pelanggan dengan meleburkan teknologi AI sehingga mampu memberikan pengalaman pengguna yang kuat dari sisi personal.

Baca juga: Mambu Dukung Transformasi Layanan Perbankan Digital Bank INA

Kedua, kasus-kasus penggunaan AI berbasis nilai, yaitu aplikasi yang berakar kuat pada nilai bisnis (pertumbuhan pendapatan, penghematan biaya atau penurunan risiko) dan nilai pelanggan (pengalaman pelanggan atau kecepatan ketersediaan di pasar atau time to market).

Ketiga, rancang bangun teknologi yang dapat di-compose, yaitu perangkat lunak perbankan inti yang fleksibel dan berbasis cloud dengan fungsionalitas plug and play (pasang dan pakai) demi menjawab kebutuhan pelanggan, dinamika pasar atau tren teknologi yang terus berubah.

Hasil laporan mengungkapkan bahwa pandemi telah melecut permintaan konsumen akan layanan keuangan yang selalu aktif, bercorak digital dengan sentuhan personal dan siap sedia di perangkat seluler. Tidak seperti 20 tahun silam, konsumen kini sudah tidak lagi melirik bank-bank konvensional ketika ingin mentransfer atau mengelola uang mereka.

Baca juga: BI Segera Meluncurkan BI-FAST pada Desember 2021

Bank-bank yang ada saat ini juga terancam gulung tikar karena konsumen berbondong-bondong menyerbu bank-bank baru dan para penantang digital demi mendapatkan pengalaman pelanggan yang lebih baik dan layanan berbasiskan manfaat. Hal ini disebabkan oleh dua faktor: akses ke layanan cloud yang semakin baik dan persaingan yang semakin tajam dari kubu perusahaan fintech dan para praktisi yang progresif.

CEO Mambu Eugene Danilkis menegaskan, laporan ini memberikan bukti nyata bagi dunia bahwa bank yang sedianya lahir sebagai institusi pelayanan kini sudah tidak ada lagi. Bank-bank kontemporer, yang sedianya lahir untuk bertahan dalam jangka panjang, perlu ditata ulang agar siap berubah.

“Jika ingin memosisikan diri sebagai mitra gaya hidup yang selaras dengan kebutuhan perbankan modern para pelanggan, praktisi perbankan konvensional harus berevolusi dengan sangat cepat - dan tanpa rasa takut,” katanya.

Baca juga: OJK Akan Wajibkan Perbankan Memiliki Pedoman Keuangan Berkelanjutan

Lebih lanjut, Eugene menjelaskan kuncinya adalah merangkul teknologi AI yang kaya akan aplikasi: mulai dari pencegahan penipuan dan manajemen risiko hingga penyediaan pengalaman pelanggan yang terpersonalisasi dan peningkatan efisiensi berkat otomatisasi di semua lini.

“Bahkan bank harus bertindak dengan sangat cepat agar tidak tertinggal jauh. Berkat pemanfaatan kemampuan AI dan teknologi cloud itu, bank akan mampu merumuskan ulang pengalaman pelanggan dan mengoptimalkan aliran pendapatan baru di pasar yang kompetitif,” ungkapnya.

Sementara itu, Director, Financial Services Industry, Google Cloud Joachim Wuest menerangkan, industri layanan keuangan terus mengalami transformasi digital, kebutuhan perusahaan akan solusi yang menghadirkan pengalaman terpersonalisasi bagi para pelanggan pun semakin besar.

Baca juga: Dirut BRI: Layanan Bank Konvensional Akan Banyak Digantikan Sistem Digital

“Kami sudah tak sabar untuk dapat bermitra segera dengan grup-grup seperti Mambu guna menghadirkan aneka solusi berbasis AI ke lembaga perbankan, sehingga memuluskan proses transformasi digital yang mereka jalani,” terangnya.

Kecerdasan Buatan di Indonesia

General Manager Mambu Indonesia Husni Fuad menambahkan di Indonesia, lonjakan permintaan untuk layanan yang lebih terpersonalisasi serta kuatnya animo konsumen terhadap solusi keuangan berbasis teknologi. Bank-bank seperti Bank Jago dan Bank INA terus berbenah untuk mengubah wajah layanan keuangan Indonesia.

Baca juga: Daftar 22 Bank yang Akan Menjadi Peserta BI-FAST

Laporan ini juga menyinggung perubahan regulasi, seperti pengenalan perbankan terbuka dan PSD2, sebagai kekuatan yang mempercepat hilangnya keberadaan perantara dalam perbankan konvensional. Kini dengan hadirnya regulasi khusus bagi fintech dan bank-bank digital di beberapa yurisdiksi, opsi yang tersedia bagi praktisi perbankan saat ini hanyalah beradaptasi atau mati.

Namun bank memiliki satu aset andalan, yakni data. Dengan transaksi kartu kredit sekitar satu miliar setiap hari, bank memiliki akses ke salah satu volume data pelanggan terbesar daripada industri lain mana pun. Dengan mengandalkan kekuatan AI, bank dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk menggali wawasan dan melecut pertumbuhan yang tiada bandingannya.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 29, 2021, 8:32 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.