Bikin Bangga, 3 Anak Muda Bawa Produk Lokal ke Pasar Internasional

Bikin Bangga, 3 Anak Muda Bawa Produk Lokal ke Pasar Internasional

Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap 28 Oktober, dimaknai dengan tekad dan semangat pemuda dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia. Di masa pandemi saat ini, khususnya menggambarkan semangat partisipasi kaum muda untuk bangkit melawan pandemi Covid-19 sekaligus mewujudkan pertumbuhan ekonomi dengan spirit kewirausahaan pemuda.

Ada beragam cara membuktikannya, seperti yang ditunjukkan oleh tiga anak muda asli Indonesia dalam kesuksesannya membawa produk lokal ke pasar internasional. Ketiga pemuda tersebut antara lain Monica Amadea (25), Kevin Naftali (28), dan Pocut Yasmine (25).

Mereka yang berani mendirikan usaha di usia muda, hingga kini berhasil mendunia. Lalu, apa rahasianya sehingga mereka bisa menembus pasar mancanegara? Ada tiga prinsip yang bisa diambil sebagai contoh seperti konsisten dan kerja keras, berani lakukan inovasi produk, dan kreatif dan berani mencoba.

Baca juga: Cerita Pemuda 19 Tahun Punya Omzet Puluhan Juta Sehari

1. Konsisten dan Kerja Keras

Monica Amadea (25) memilih berwirausaha produk fashion wanita dengan label Monomolly, sejak usianya masih sangat muda. Ia mulai berwirausaha di usia 20 tahun, ketika muncul tuntutan harus membiayai kuliahnya sendiri tanpa bantuan orang tua.

Perempuan lulusan jurusan Hubungan Internasional ini mengaku awalnya tidak mudah, Monica harus mempelajari bisnis secara otodidak hingga akhirnya berhasil membuat produk bajunya sendiri. Monica kemudian bisa menggali potensi produknya dan menemukan keistimewaan pada pilihan pakaian perempuan yang inklusif bagi semua ukuran tubuh.

Puncaknya adalah pada tahun 2017 ketika Monica dibanjiri permintaan pembelian setelah mulai menjual produknya di platform e-commerce Shopee. “Masuk ke dalam platform digital untuk mengembangkan bisnis menjadi salah satu pilihan terbaik buat kemajuan bisnis saya,” jelas Monica.

Baca juga: Ini Alasan Maudy Ayunda Investasi di Startup Grocery Commerce Segari

Salah satu alasannya adalah karena target pasarnya kebanyakan sudah melek teknologi dan terbiasa berbelanja di e-commerce. “Kalau dari Shopee, kita biasa terima hingga ribuan pesanan, dan hingga kini bisa mendapat pesanan yang stabil hingga ratusan per harinya,” tambah Monica.

Siapa sangka kini ia juga sudah berhasil ekspor ke Singapura, Malaysia dan Thailand. “Ini semua dibantu oleh Shopee. Prosesnya mudah, sama seperti kita jual barang ke pengguna di dalam negeri. Seneng banget sih bisa go internasional,” tambahnya.

2. Berani Lakukan Inovasi Produk

Ada juga Kevin Naftali yang berusia 28 tahun dengan produk fesyen pria bernama Kevasco. Awalnya, di tahun 2011, Kevin menjual produk knitwear - yang cukup berbeda dengan produk-produk fesyen laki-laki yang di jual di pasaran kala itu. Setelah menurunkan idealismenya dan mulai membaca pasar, di tahun 2017-2018 Kevin mulai fokus untuk menambahkan produk life wear.

Baca juga: 6 Tips Membangun Brand Bisnis Ala Yasa Singgih

Kevin menjelaskan bagaimana kehadiran e-commerce seperti Shopee sangat membantu perkembangan brand-brand yang masih kecil untuk menjadi platform yang menyediakan demand yang cukup stabil, terlebih dengan adanya berbagai kampanye dengan promo-promo yang menarik.

Meski industri fashion terkena dampak saat awal pandemi Covid-19, omzet Kevin justru berhasil naik hingga 2x lipat di tahun 2020 dari tahun 2019 berkat penjualan di Shopee. Pencapaian Kevin adalah ketika berhasil mengekspor produknya ke negara tetangga seperti Singapura dan Thailand.

“Kita dulu pernah ekspor, tapi itu hand carry, titip sama temen kita yang memang kuliah di luar negeri. Tapi sayang jumlahnya hanya bisa sedikit saja, dan itu pun saat teman kita lagi pulang ke Indonesia saja.” kata Kevin.

Sejak tahun 2019, Kevin ikut serta dalam Program Ekspor Shopee ke Singapura dan Thailand. Sejak saat itu Kevasco mencatatkan perkembangan yang sangat baik. Hingga kini, 20-25% omzet penjualan dari Shopee berasal dari ekspor.

Diakui Kevin, ada banyak hal yang ia dapatkan dari bergabung di program ekspor ini. Oleh karenanya, Kevin ingin terus menjadikan ekspor sebagai fokus untuk terus melakukan ekspansi market.

3. Kreatif dan Berani Mencoba

Terakhir ada Pocut Yasmine (25) yang merintis usaha sejak bangku kuliah. Dengan berbekal kemampuan photoshop, ia menjual berbagai macam stiker, pin, dan printables lainnya sambil menyelesaikan kuliahnya di jurusan arsitektur.

Baca juga: Yogi Ang: Mouth To Mouth Marketing adalah Segalanya

Yasmine mulai membuka toko di e-commerce Shopee sejak tahun 2018. Sejak saat itu pula ia mendedikasikan seluruh waktunya agar produknya yang ia namakan Tameeca bisa berekspansi ke pasar global.

Kini, Yasmine tengah mengembangkan pangsa pasar ekspor Tameeca di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ia melakukannya dengan memasang iklan di Instagram di ketiga negara tetangga tersebut. Dari hasil iklan tersebut, banyak konsumen yang kemudian menanyakan produk yang ia jual dan melakukan pembelian melalui e-commerce Shopee.

Sebelum menjual di Shopee, Yasmine pernah mencoba ekspor secara mandiri setelah menerima pesanan melalui Instagram. Namun upaya itu malah menjadikan banyak calon pembeli membatalkan pesanan karena meningkatnya biaya ongkos kirim. 

Baca juga: Keenan Pearce: Kewirausahaan adalah Proses Perjalanan

Yasmine mengaku bahwa keikutsertaannya dalam Program Ekspor Shopee sangat membantunya, terutama dalam urusan logistik. Kini, Yasmine bertekad ingin merambah ke negara-negara lainnya sambil menambah sumber daya manusia (SDM) agar bisa menangani banyaknya pesanan dari luar negeri.

Berkat kemudahan yang ditawarkan oleh Program Ekspor Shopee, Monica, Kevin, dan Yasmine tidak hanya mengembangkan bisnisnya secara lokal saja, namun juga bisa melangkah ke panggung global di usia yang muda. Kegigihan dan semangat juang yang mereka miliki bisa menjadi inspirasi di kalangan kaum muda agar Bangsa Indonesia bisa bangkit perekonomiannya melalui spirit wirausaha.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 29, 2021, 8:21 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.