Tapering Off The Fed dan Dampaknya Bagi Indonesia

Tapering Off The Fed dan Dampaknya Bagi Indonesia

Beberapa waktu belakangan ini, tapering off yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserves (The Fed) menjadi topik pembicaraan banyak pihak, terutama investor yang khawatir dengan potensi dampak yang ditimbulkan terhadap pasar.

Tapering off adalah pengurangan stimulus moneter yang dikeluarkan bank sentral saat perekonomian sedang terancam dan membutuhkan banyak suntikan dana likuiditas. Hal ini dilakukan The Fed dengan mengurangi ukuran program pembelian obligasi yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif (quantitative easing atau QE).

Indikator pengukur kapan tapering off dilaksanakan adalah ketika inflasi mengalami keseimbangan, tingkat pengangguran menuju normal, hingga pemulihan tingkat kredit atau pinjaman yang menandakan ekonomi mulai aktif kembali.

Baca juga: Bank Indonesia Tahan BI7DRR 3,50 Persen

Di Agustus 2021 kemarin, Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 0 - 0,25 persen dalam rapat Federal Open Market Committee. Namun, Ketua The Fed, Jerome Powell sudah mengisyaratkan mulai mempertimbangkan untuk melakukan tapering off atau pengurangan stimulus besar–besaran di tahun ini.

Pada awalnya, para pengamat ekonomi AS memperkirakan kebijakan tapering off kemungkinan akan terjadi paling cepat pada 21-22 September 2021. Namun kini mereka memperkirakan kebijakan ini akan mulai dilakukan pada November atau Desember 2021 karena ketidakpastian yang ditimbulkan virus Covid-19 varian Delta dan masih tingginya tingkat pengangguran di Amerika Serikat.

Dampak Bagi Indonesia

Berkaca pada delapan tahun, The Fed pernah melakukan tapering off yang memicu taper tantrum, yaitu keadaan gejolak pasar keuangan ketika The Fed mengetatkan kebijakan moneternya. Investasi asing yang saat itu mendominasi pasar modal Indonesia pun menarik uang mereka dan memutuskan untuk menaruh dana di pasar modal Amerika Serikat karena dianggap lebih menarik.

Baca juga: Dua Pertiga Bank Terancam Gulung Tikar, Kok Bisa?

Kondisi tersebut membawa efek rupiah tertekan di level Rp12 ribu per dollar AS dari awalnya di bawah Rp10 ribu. Selain itu, jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 4.200 di akhir 2013 dari sebelumnya yang berada di level 5.200. Efek kebijakan tersebut bahkan berdampak panjang pada tren pelemahan rupiah hingga melewati 14.000 per dolar di 2015.

Bagaimana dengan risiko yang dihadapi Indonesia tahun ini? Dalam riset yang dipublikasikan oleh Nomura Research Institute, sebuah lembaga riset ekonomi terbesar di Jepang, Indonesia masuk ke daftar 10 negara rentan (fragile 10) terdampak bersama Brasil, Kolombia, Chili, Peru, Hongaria, Rumania, Turki, Afrika Selatan, dan Filipina jika tapering off dilakukan.

Nomura menyebutkan penyebab rentannya 10 negara tersebut adalah kombinasi dari pertumbuhan ekonomi yang lemah, inflasi yang meningkat, dan berkurangnya kekuatan fiskal. Situasi di negara-negara berkembang di mana inflasi lebih tinggi daripada suku bunga juga menjadi sumber kerentanan.

Namun, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo cukup optimis dampak tapering off The Fed tidak akan sebesar taper tantrum pada tahun 2013 baik untuk pasar global, emerging market, bahkan Indonesia.

Hal tersebut berdasarkan pada beberapa poin termasuk komunikasi The Fed yang sangat terbuka terkait kerangka kerja dan kebijakan sehingga Indonesia lebih mudah memahami pola kerja The Fed ke depannya.

Dari sisi internal Bank Indonesia sendiri, telah ada kebijakan yang matang dalam mengelola risiko tapering off baik kepada nilai tukar rupiah maupun pergerakan arus modal asing, selain itu BI juga memiliki bantalan cukup besar berupa cadangan devisa yang hingga akhir Juli 2021 berada di posisi US$ 137,4 miliar sehingga dianggap cukup untuk melakukan stabilisasi di tengah risiko tapering off.

Baca juga: Pemerintah Akan Buka Penawaran ORI020 Awal Oktober 2021

Johanna Gani, CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia mengatakan, tidak dapat dipungkiri dampak tapering off The Fed pada tahun 2013 silam berimbas cukup kuat terhadap perekonomian Indonesia,

“Salah satu penyebabnya adalah cukup tingginya arus dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia dari kebijakan quantitative easing (QE) setelah krisis keuangan 2008 dan current account deficit (CAD) pada tahun 2013 yang mencapai lebih dari 3 persen dari pertumbuhan ekonomi.

Dampak paling terasa dari taper tantrum 2013, yaitu merosotnya nilai tukar rupiah hingga puncak pelemahan terjadi pada September 2015 dimana pada akhir Mei 2013, kurs rupiah berada di level Rp9.790 per dollar AS sampai pada 29 September 2015 menyentuh level terlemah Rp 14.730 per dollar AS yang berarti terjadi pelemahan lebih dari 50 persen.

Baca juga: PPh Bunga Obligasi Turun Menjadi 10 Persen

Namun, Johanna memprediksi apabila The Fed melakukan tapering off pada tahun ini, dampaknya tidak akan seberat 2013. Ada dua alasan, pertama The Fed sudah sangat transparan dalam hal komunikasi khususnya prospek ekononomi seperti inflasi dan penggangguran, termasuk terkait rencana tapering off yang akan dilakukan tahun ini.

“Kedua, kondisi makro-ekonomi dalam negeri yang juga lebih baik dibandingkan 2013, antara lain dengan cadangan devisa yang cukup tinggi mencapai US$ 137,4 miliar pada Juli 2021. Angka cadangan devisa ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada Juni 2013 yang hanya mencapai US$ 98,1 miliar,” jelas Johanna.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Sept. 27, 2021, 8:45 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.