Saatnya Pertimbangkan Kelebihan Asuransi Syariah

Saatnya Pertimbangkan Kelebihan Asuransi Syariah

Penetrasi asuransi syariah masih terbilang kecil bila dibandingkan dengan asuransi konvensional. Hal ini bisa disebabkan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah yang masih di bawah 10 persen. Bahkan literasi asuransi syariah masih berada di kisaran 2 persen.

Kemajuan teknologi digital pun diharapkan mampu mengerek tingkat literasi asuransi syariah. Utamanya bagi generasi muda yang melek teknologi digital. Dukungan generasi muda ini sangat penting, selain sebagai pengguna asuransi syariah, mereka juga bisa menjadi agen dalam perluasan market keuangan syariah, khususnya asuransi syariah.

Selain asuransi konvensional, asuransi syraiah bisa menjadi alternatif pilihan yang patut dipertimbangkan bagi generasi muda. Sesuai namanya, konsep asuransi syariah dijalankan dengan berpegang pada nilai saling tolong-menolong (sharing risk) di antara para nasabah.

Baca juga: Pandemi Jadi Momentum Meningkatkan Kesadaran Asuransi Syariah

Secara umum, manfaat yang diberikan asuransi syariah hampir serupa dengan asuransi konvesional. Asuransi syariah menawarkan manfaat yang lengkap, seperti perlindungan atas risiko meninggal dunia, sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap total, ataupun rawat inap di rumah sakit.

Nah, untuk mengetahui asuransi syariah lebih dalam, berikut ini poin-poin penting tentang asuransi syariah yang perlu Anda ketahui. 

1. Konsep Tolong-menolong

Konsep tolong-menolong ini tertuang dalam fatwa Dewan Syariah Nasional tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah. Fatwa tersebut menjelaskan asuransi syariah adalah sebagai usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu menggunakan akad yang sesuai dengan syariah.

Dana Tabarru’ tersebut kemudian akan digunakan untuk membayarkan Santunan apabila ada di antara para Peserta yang mengalami risiko atau musibah dan mengajukan klaim. Dalam praktiknya, perusahaan asuransi akan diberikan kewenangan oleh Peserta sebagai wakil untuk mengelola Rekening Tabarru’ dengan imbalan berupa Ujrah (fee) dengan besaran sesuai yang disepakati.

Baca juga: Perbedaan dan Manfaat Asuransi Syariah

2. Tidak Ada Unsur Riba, Gharar, dan Maysir

Dalam prisip syariah selalu menghindari hal-hal yang dilarang seperti keberadaan riba (bunga), gharar (sesuatu yang tidak jelas), dan juga maysir (praktik yang mengandung ketidakpastian atau untung-untungan).

Prinsip ini berlaku juga dalam asuransi Syariah. Dengan berdasarkan akad atau kontrak saling tolong menolong di antara peserta, maka unsur riba, gharar, dan maysir dihilangkan. Dalam mengelola dana pesertapun, asuransi syariah tidak boleh melakukan penempatan dana pada instrument atau lembaga apapun yang usahanya mengandung riba.

Baca juga: Pilih Mana Asuransi Konvensional atau Asuransi Syariah?

3. Diawasi Dewan Pengawasan Syariah

Bagaimana memastikannya? DSN MUI melalui penempatan Dewan Pengawas Syariah (DPS) melakukan proses pengawasan terhadap perusahaan asuransi syariah yang menjalankan usahanya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Sebagai contoh, sebelum dilakukan proses pemasaran, sebuah produk asuransi syariah harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari DPS. Keharusan mendapatkan persetujuan dari DPS atas setiap kegiatan operasional yang terkait dengan prinsip Syariah menjadikan praktik bisnis di asuransi syariah dapat dijamin kehalalannya.

Nah, itulah poin-poin penting yang diterapkan dalam pengelolaan asuransi syariah di Indonesia. Dengan mengetahui prinsip dan cara kerja asuransi syariah, diharapkan asuransi ini bisa menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan bagi generasi muda.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Sept. 7, 2021, 8:48 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.