Standard Chartered Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,1 persen

Standard Chartered Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,1 persen

Standard Chartered memprediksi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini sebesar  4,1 persen. Angka ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang mencapai 4,5 persen). Sementara pada 2022, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi sebesar 4,8 persen.

Prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia itu disampaikan Standard Chartered (Bank) dalam laporan Global Focus - Economic Outlook H2 2021 dalam acara tahunan Global Research Briefing (GRB) H2 2021 untuk Indonesia yang diadakan secara virtual pada Jumat (9/7/2021).

Senior Economist, Standard Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputra mengatakan, pertumbuhan jangka pendek diantisipasi akan didukung oleh kebijakan pemerintah, permintaan eksternal yang kuat dan kepercayaan yang meningkat pada program vaksinasi. Bank mempertahankan perkiraan kurs USD-IDR akhir tahun 2021 di Rp14.600 dengan proyeksi bahwa Rupiah akan menguat dalam waktu dekat.

Baca juga: Bank Mandiri Optimis Ekonomi dan Kredit Membaik di Kuartal II 2021

“Naiknya kembali jumlah kasus dan pengetatan kembali pembatasan mobilitas dapat memperlambat laju pemulihan, terutama untuk sektor yang terkena dampak langsung seperti pariwisata, transportasi dan akomodasi. Dukungan kebijakan moneter dan fiskal dari pemerintah kemungkinan akan dikurangi tahun depan, di tengah normalisasi kebijakan moneter global dan dorongan konsolidasi fiskal Indonesia,” kata Aldian.

Di kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan (Mendag) Republik Indonesia, Muhammad Lutfi menyampaikan, di tengah pandemi Covid-19 ini, Indonesia sedang berkembang menjadi negara pengekspor barang industri dan industri berteknologi tinggi dari sebelumnya dikenal sebagai negara pengekspor barang mentah dan barang setengah jadi.

“Transformasi tersebut terjadi pada produk besi baja dan kendaraan bermotor. Kedua komoditas tersebut adalah fenomena baru dalam ekspor Indonesia di masa yang akan datang. Nilai yang disumbangkan kedua produk ini sangat tinggi dan sangat menjanjikan,” ungkapnya.

Baca juga:Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minus 0,74 Persen pada Kuartal I 2021 

Mendag juga menjelaskan, komoditas lain yang perlu mendapat perhatian dan memiliki potensi tinggi adalah perhiasan. Pada 2020, ekspor perhiasan mencapai USD8,22 miliar. Perhiasan Indonesia disukai banyak konsumen mancanegara, memperkerjakan banyak perajin UMKM, sehingga, meningkatkan nilai perdagangan Indonesia.

Standard Chartered memperkirakan pertumbuhan global akan pulih di angka 5,8 persen pada 2021 dari -3,3 persen pada tahun 2020 karena momentum dari pembukaan ekonomi kembali dan penyaluran vaksin.

Volume ekspor global sekarang 3,9 persen lebih tinggi dari sebelum pandemi. Perdagangan barang yang berkembang pesat secara khusus menguntungkan negara dengan ekonomi kecil yang berorientasi ekspor (seperti Taiwan dan Vietnam) dan produsen komoditas (seperti Chili).

Baca juga: Seberapa Penting Vaksinasi dalam Pemulihan Ekonomi Indonesia?

Bank memproyeksikan bahwa dinamika ini akan berlanjut, disokong oleh permintaan konsumen, dan pada saat yang sama, adanya penurunan tingkat pengangguran dan tabungan yang dibelanjakan di tengah pembukaan kembali ekonomi.

Andrew Chia, Cluster CEO, Indonesia & ASEAN Markets (Australia, Brunei & Filipina), Standard Chartered, menerangkan, naiknya kembali kasus Covid-19 baru-baru ini di Indonesia dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, yang akan berdampak pada pelaku usaha, pekerja, dan masyarakat umum.

Namun demikian, pandemi terus memunculkan risiko penurunan proyeksi pertumbuhan. Munculnya varian baru 'Delta plus', yang berpotensi lebih menular, menyoroti bahwa varian-varian baru akan terus menimbulkan ancaman yang signifikan sampai jumlah kasus turun dalam skala global.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
July 9, 2021, 1:45 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.