LPS: Pengelolaan Aset Rp148 Triliun Sesuai Undang-Undang

LPS: Pengelolaan Aset Rp148 Triliun Sesuai Undang-Undang

Lembaga Penjamin Simpanan menjamin pengelolaan aset LPS termasuk dana dari masyarakat telah dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, berdasarkan amanat Undang-Undang, LPS hanya dapat menempatkan aset pada Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia dan/atau Bank Indonesia.

Selain SBN, di dalam aset LPS kami juga telah menyiapkan dana setiap tahun untuk mengantisipasi apabila perbankan ada masalah, ada sejumlah dana triliunan rupiah yang disiapkan dalam bentuk cash dan dapat digunakan langsung untuk membantu perbankan setiap saat apabila diperlukan,” jelasnya dalam acara Power Lunch oleh CNBC Indonesia melalui teleconference.

Baca juga: LPS Turunkan Tingkat Bunga Penjaminan Menjadi 4 Persen

Terkait Surat Berharga Negara atau SBN, Purbaya menerangkan, SBN itu bersifat likuid sehingga mudah dicairkan. Dengan begitu, LPS selalu siap mengawal perbankan Indonesia apabila terjadi masalah yang tidak diinginkan.

Selain itu, LPS juga mempunyai Nota Kesepahaman dengan Bank Indonesia dan sudah kami tes secara riil. Intinya Rp148 triliun dana liquid. Jadi, dana masyarakat di perbankan itu dijamin oleh dana yang likuid dan siap mengawal perbankan nasional.

“Hasil investasi kami setiap tahun juga cukup baik, mungkin sekitar Rp12 triliun lebih. Artinya pengelolaan dana kami dan dana dari masyarakat juga sangat baik dan kami jamin tidak ada penyimpangan-penyimpangan aneh” tegasnya.

Baca juga: LPS: Tidak Ada Bank Gagal pada Tahun 2020

Sehubungan dengan penurunan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP), Purbaya berharap akan terjadi transmisi kebijakan moneter yang lebih baik dan berdampak positif untuk lebih mendorong sisi supply maupun demand bagi perekonomian.

“Dengan sudah diturunkannya bunga penjaminan LPS, maka suku bunga deposito akan semakin turun dan perbankan dari segi cost-nya juga akan turun sehingga ada ruang bagi perbankan untuk menyalurkankan kredit dan menurunkan bunga pinjaman, sehingga korporasi akan lebih tertarik untuk meminjam dari perbankan,” tutupnya.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
June 7, 2021, 9:01 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.