Prospek Pemulihan Ekonomi Indonesia di Tengah Upaya Vaksinasi

Prospek Pemulihan Ekonomi Indonesia di Tengah Upaya Vaksinasi

Setahun lebih pandemi Covid-19 telah merebak di seluruh dunia dan berdampak signifikan terhadap perekonomian hingga memicu resesi di berbagai negara. Bagi Indonesia, 2020 menjadi tahun yang sangat menantang, di mana kurva kasus Covid-19 yang belum melandai. Berbagai kebijakan mobilitas pun diberlakukan guna menahan laju penyebaran Covid-19.

Bukan tanpa dampak, pembatasan ruang gerak ini berimbas pada perekonomian negara. Menurut Bank DBS, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2020 terkontraksi sebesar 2,1 persen secara tahunan (year on year). Sementara Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand terkontraksi lebih dalam masing-masing sebesar minus 5,6 persen, minus 5,4 persen, minus 9,5 persen, dan minus 6,1 persen.

Tahun ini memberi harapan perbaikan ekonomi. Bank DBS memperkirakan ekonomi Indonesia akan membaik dengan pertumbuhan sebesar 4,0 persen dan 4,5 persen di tahun 2022. Secara umum, Bank DBS juga memproyeksikan pertumbuhan PDB ASEAN mencapai 5,2 perseb secara tahunan pada 2021 dibandingkan pada tahun lalu yang terkontraksi sebesar minus 4,3 persen.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minus 0,74 Persen pada Kuartal I 2021

Ekonom Bank DBS Radhika Rao dalam DBS Asian Insights bertajuk ASEAN-6 Chartbox: Turning-Corner mengatakan, negara-negara dengan beban kasus Covid-19 memulai pemulihan secara perlahan (soft start) pada kuartal pertama 2021.

"Program vaksinasi telah dimulai di sejumlah negara dengan kecepatan yang berbeda-beda. Di Asia Tenggara, Indonesia dan Singapura merupakan dua negara yang lebih dulu memulai vaksinasi pada pertengahan Januari 2021," tulis Radhika. 

Mengacu pada data Situasi Covid-19 dari Komite Penanggulangan Covid-19 di Indonesia per awal Mei 2021 hingga saat ini sudah lebih dari 12,6 juta dosis vaksin disuntikkan kepada sebagian besar pekerja garis terdepan dan perawat kesehatan, dilanjutkan fase kedua untuk pegawai negeri dan lansia.

 

Dengan program vaksinasi, jumlah kasus Covid-19 diharapkan semakin terkendali. Mobilitas masyarakat pun dapat kembali normal sehingga membuka peluang terjadinya pemulihan ekonomi tahun ini. 

Kondisi Fiskal dan Utang Negara

Pandemi Covid-19 juga berdampak besar terhadap kondisi fiskal dan tingkat utang Indonesia. Berdasarkan Undang-undang (UU) Keuangan Negara, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dibatasi maksimal 3 persen terhadap PDB, sedangkan utang pemerintah ditetapkan maksimal 60 persen terhadap PDB.

Bank DBS berpandangan, dibandingkan dengan negara lain, defisit fiskal dan utang Indonesia memang meningkat, namun masih terkelola dengan baik atau masih lebih rendah dari batas maksimal PDB. Dalam satu dekade terakhir, defisit Indonesia berada di bawah 2,5 persen, lebih rendah dibandingkan dengan India yang mencapai 7 persen dan Malaysia 4 persen.

Baca juga: Aspek Kesehatan dan Ekonomi, Kunci Kebangkitan Perekonomian Indonesia

Sedangkan pada 2020-2022, hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia memperlebar batas defisit anggaran. Kebijakan ini dilakukan untuk memberikan fleksibilitas keuangan dalam menangani dampak krisis kesehatan. 

“Tingkat utang pemerintah Indonesia meski terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, masih jauh di bawah ambang batas yang diizinkan dan lebih rendah dari negara-negara lain,” ungkap Radhika.

Hal tersebut juga diperkuat dengan Lembaga Pemeringkat Fitch yang mempertahankan peringkat utang Indonesia atau Sovereign Credit Rating dengan BBB (investment grade) dengan outlook stabil pada 19 Maret 2021, sesuai rilis yang dikeluarkan Kementerian Keuangan RI pada Rabu (24/3/2021).


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
May 27, 2021, 8:37 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.