Kilas Balik Lebaran 2021 dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kilas Balik Lebaran 2021 dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Periode Lebaran 2021 telah usai, tahun ini menandakan kedua kalinya masyarakat Indonesia merayakan Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19 dengan segala keterbatasan yang menyertai. Dalam keadaan normal, momen Ramadan dan Lebaran selalu menggeliatkan pertumbuhan ekonomi nasional, namun bagaimana dengan tahun ini?

Grant Thornton Indonesia merangkum beberapa hal untuk melihat kilas balik periode Lebaran 2021. Lebaran tahun ini, pemerintah memutuskan untuk melarang kegiatan mudik atau pulang kampung pada Lebaran tahun ini, mulai dari 6-17 Mei 2021. Kebijakan ini tentunya diambil untuk mencegah penularan virus Covid-19 semakin meluas.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada Lebaran tahun lalu, larangan mudik 2020 menyebabkan sektor transportasi terkoreksi sebesar 30,8 persen. Sektor transportasi dan pergudangan memberikan kontribusi paling besar terhadap penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) 2020 yaitu minus 0,6 persen dengan laju pertumbuhan minus 15 persen.

Baca juga: Indeks Keyakinan Konsumen pada April 2021 Masuk ke Zona Optimis

Namun, menurut beberapa pengamat dampak larangan mudik 2021 tidak akan lebih parah dibandingkan tahun lalu, dikarenakan pemerintah tetap mengizinkan pembukaan sejumlah tempat wisata dan pusat perbelanjaan sehingga masyarakat tetap bisa membelanjakan uangnya selama libur Lebaran.

Pengamat juga menilai keputusan pemerintah mewajibkan pengusaha membayar tunjangan hari raya (THR) secara penuh maksimal H-7 Hari Raya Idul Fitri sudah tepat untuk memberikan kompensasi dampak negatif dari larangan mudik untuk memutar perekonomian di berbagai daerah Indonesia.

 

Johanna Gani, CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia mengatakan, meskipun kebijakan larangan mudik ini berimbas secara faktual terhadap ekonomi nasional tetapi hal itu merupakan langkah terbaik yang telah disiapkan pemerintah.

“Berkaca pada melonjaknya kasus baru Covid-19 di India dan beberapa negara lain tentu membuka mata kita untuk jauh lebih berhati-hati terhadap gelombang baru pandemi yang secara jangka panjang akan memberatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” katanya.

Dampak positif dari larangan mudik tahun ini diprediksi akan mendorong naiknya tingkat konsumsi masyarakat di wilayah aglomerasi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, penarikan dana tunai di Jabodetabek selama periode Lebaran ini mencapai Rp34.8 triliun atau naik 61 persen dibanding jumlah penarikan dana tunai pada Lebaran tahun lalu.

Baca juga: Bank Indonesia Perkuat Perlindungan Konsumen di Era Ekonomi Digital

Jumlah peredaran uang kartal nasional juga tercatat naik 41.5 persen menjadi Rp154.5 triliun. Airlangga juga memperkirakan ekonomi kuartal II yang didukung periode Ramadan dan Lebaran mampu tumbuh hingga 7 persen.

Johanna memperkirakan, beberapa sektor akan tumbuh positif selama periode Ramadan dan Lebaran adalah sektor informasi dan komunikasi, keuangan, kesehatan serta retail. Namun penting untuk dipahami momentum kenaikan konsumsi akan hilang setelah Lebaran, penting untuk para pelaku usaha fokus menjaga momentum pertumbuhan positif hingga akhir tahun.

“Kami harapkan pemerintah dapat terus mendorong kebijakan yang memicu konsumsi dan produktivitas masyarakat selain tentunya tetap secara agresif mengendalikan pandemi Covid-19 termasuk terus mengedukasi dan mendorong vaksinasi, hal tersebut kami yakini dapat  meningkatkan kepercayaan masyarakat luas dalam melakukan kegiatan ekonomi sehari-hari yang berimbas postifi pada perekonomian Indonesia,” harap Johanna.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
May 25, 2021, 6:58 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.