Ekonom DBS: Pertumbuhan PDB Catat Penurunan Lebih Kecil

Ekonom DBS: Pertumbuhan PDB Catat Penurunan Lebih Kecil

Sesuai dengan perkiraan Ekonom DBS, PDB tahunan Indonesia mengalami kontraksi 0,7 persen. Peningkatan jumlah kasus Covid-19 pada awal 2021 mengharuskan perpanjangan pembatasan setempat sehingga memperlambat laju perekonomian.

Rincian tersebut menunjukkan bahwa ekspor dan peningkatan pasokan (inventory) membantu pencapaian PDB di kuartal pertama 2021, sementara segmen lain menyusut lebih kecil. Konsumsi turun 1,8 persen dibanding kuartal pertama 2020, setidaknya lebih baik jika dibandingkan dengan minus 2,6 persen (rata-rata) pada dua kuartal sebelumnya.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minus 0,74 Persen pada Kuartal I 2021

Konsumsi rumah tangga dan swasta pun turun lebih besar di angka -2,2 persen, terbukti dengan melemahnya kepercayaan konsumen, penjualan eceran, dan kelambatan pembukaan kembali bidang pariwisata. Belanja pemerintah naik 3 persen versus 1,8 persen pada kuartal keempat 2020, menunjukkan bahwa percepatan pencairan dana pemulihan ekonomi akan menopang pertumbuhan.

Pertumbuhan pembentukan modal menyusut minus 0,2 persen, pulih secara berarti dari rata-rata minus 6,3 persen dalam dua kuartal sebelumnya. Hal tersebut didorong oleh pertumbuhan dalam penyetokan ulang barang, investasi peralatan mesin, kendaraan, dan gedung serta konstruksi.

“Ekspor bersih menyumbang 0,4 poin persentase (ppt) pada pertumbuhan, lebih rendah daripada empat kuartal terakhir karena pertumbuhan impor juga melambat,” tulis DBS Group Research dalam siaran pers yang diterima duitologi.com (10/5/2021).

 

Peluang Pertumbuhan

Perkiraan resmi berubah dalam beberapa minggu terakhir dengan Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan 2021 sebesar 4,1-5,1 persen dan Kementerian Keuangan sebesar 4,5-5,3 persen. Efek dasar akan menonjol pada kuartal kedua dan ketiga, dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mematok pertumbuhan PDB kuartal kedua di angka 6,9-7,8 persen.

“Selain vaksinasi sebagai katalis utama, perdagangan dan dukungan fiskal, manajemen pandemi akan tetap berperan penting dalam memuluskan jalan untuk kebangkitan ekonomi,” tambah DBS Group Research.

Baca juga: Empat Strategi Pemerintah Menjaga Pertumbuhan Pemulihan Ekonomi 2021

Selain itu, stabilisasi nilai Dolar Australia dan dolar AS memberikan kelegaan pada pasar dalam negeri. Imbal hasil obligasi Rupiah menguat dari tingkat tertinggi pada Maret, sementara nilai Rupiah mengurangi kerugian, dengan depresiasi minus 2,7 persen sejak awal tahun.

Unsur penyeimbang, seperti kepemilikan asing lebih kecil di obligasi pemerintah, defisit transaksi berjalan yang dapat dikelola, operasi mata uang asing reguler oleh pihak berwenang untuk menahan gejolak, dan dorongan investasi lebih luas untuk menarik arus dana masuk, kemungkinan mendukung Rupiah pada tahun ini.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
May 11, 2021, 11:01 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.