OJK: Kebijakan Relaksasi Kredit Hingga 31 Maret 2022

OJK: Kebijakan Relaksasi Kredit Hingga 31 Maret 2022

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menegaskan memperpanjang kebijakan relaksasi kredit hingga 31 Maret 2022. Salah satu alasan perpanjangan restruturisasi kredit karena pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Kebijakan ini juga diharapkan dapat meringankan beban debitur untuk menjalankan bisnisnya.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II OJK Bambang Widjanarko mengingatkan, kebijakan perpanjangan relaksasi kredit ini tidak akan selamanya. Langkah itu diambil untuk menghindari risiko moral (moral hazard) yang bisa muncul di kemudian hari.

“Yang diatur sama dengan POJK 11. Penetapan kualitas kredit kemudian kualitas lancar bagi yang direstrukturisasi, tetapi ada juga ditambahkan tentang penerapan manajemen risiko," kata Bambang dalam konferensi pers virtual (11/4/2021).

Baca juga: Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil, OJK Dorong Sinergi Pemulihan Perekonomian

Dalam Pasal 3 hingga Pasal 7 POJK Nomor 11/POJK.03/2020 menyebutkan, relaksasi penilaian kualitas kredit atau penyediaan dana lain dengan plafon di bawah Rp10 miliar hanya didasarkan pada ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga, margin, bagi hasil, atau ujrah hingga 31 Maret 2022.

Kedua, penetapan kualitas kredit atau pembiayaan menjadi lancar setelah direstrukturisasi selama berlakunya POJK stimulus Covid-19. Ketiga adalah bank dapat memberikan kredit atau pembiayaan dana lain yang baru kepada debitur yang telah memperoleh perlakuan khusus sesuai POJK stimulus Covid-19 ini dengan penetapan kualitas kredit tersebut dilakukan secara terpisah dengan kualitas kredit sebelumnya.

Meski OJK telah menetapkan jangka waktu relaksasi kredit hingga 31 Maret 2022, tetapi perbankan tetap memiliki keleluasaan untuk menetapkan skema restrukturisasi kredit sesuai dengan kebutuhan debitur yang terdampak Covid-19.

Baca juga: Bank Indonesia Kembangkan Sistem Pembayaran BI FAST dan Open API

Adapun, jangka waktu restrukturisasi kredit kurang dari 31 Maret 2022. Fasilitas debitur tetap dapat bertahan di kategori lancar sampai dengan akhir perjanjian restrukturisasi kredit. Atas dasar ketentuan jangka waktu tersebut, maka penetapan kualitas kredit, yaitu:

● Jika jangka waktu perjanjian restrukturisasi kredit kurang dari batas waktu yang ditetapkan di POJK (31 Maret 2022), maka kualitas kredit tersebut dapat ditetapkan memiliki kualitas lancar sampai dengan akhir jangka waktu perjanjian restrukturisasi.

● Jika jangka waktu perjanjian restrukturisasi kredit melebihi batas waktu yang ditetapkan di POJK, maka kualitas kredit tersebut dapat ditetapkan memiliki kualitas lancar sampai dengan tanggal 31 Maret 2022, dan selanjutnya mengacu pada POJK Kualitas Aset, di mana kualitas kredit akan tetap lancar selama debitur tetap memenuhi kewajiban kontraktual sesuai perjanjian kredit baru yang disepakati.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
April 12, 2021, 8:47 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.