Sampoerna Dorong Produktivitas dan Kemandirian UMKM

Sampoerna Dorong Produktivitas dan Kemandirian UMKM

UMKM punya peran penting dalam menggerakkan perekonomian nasional. PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) berkomitmen untuk terus mengembangkan keterampilan UMKM Indonesia melalui program Sampoerna Retail Community (SRC) dan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC).

Hal dipaparkan oleh Presiden Direktur Sampoerna Mindaugas Trumpaitis dalam konferensi Indonesia Summit 2021 oleh The Economist. Sampoerna berkomitmen untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing UMKM secara terpadu khususnya dalam hal digitalisasi.

“Kami senantiasa menjalankan komitmen untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing UMKM secara terpadu dan menyeluruh antara lain membantu meningkatkan literasi digital serta mengembangkan aplikasi AYO SRC untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing toko kelontong tradisional,” katanya.

Baca juga: Dukung Industri Halal, BSI Fokus Kembangkan UMKM dan Layanan Digital

Sejak diluncurkan pada 2008, SRC telah merangkul lebih dari 130.000 pemilik toko kelontong yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Sampoerna memberikan pendampingan kepada pemilik toko kelontong SRC.

Pendampingan tersebut antara lain tentang tentang manajemen bisnis dan rantai suplai, strategi pemasaran, pelatihan tentang pemanfaatan platform online seperti media sosial dan e-commerce, peningkatan literasi digital, hingga cara membina relasi yang baik dengan pelanggan.

Untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing pemilik toko kelontong SRC, Sampoerna mengembangkan aplikasi digital AYO SRC. Aplikasi ini merupakan inovatif yang menghubungkan pemilik toko kelontong SRC di seluruh Indonesia dengan mitra penyalur, seperti pedagang grosir, serta juga dengan para konsumen secara online atau business to business to consumer (B2B2C).

Nilai tambah lain dari aplikasi AYO SRC antara lain adalah Pojok Bayar untuk e-payment, AyoKasir untuk membantu manajemen stok barang, dan yang terbaru adalah Pojok Modal. Fitur Pojok Modal berangkat dari situasi di mana ebagian besar pemilik toko kelontong SRC belum terhubung (unbanked) atau memiliki akses perbankan, sementara bantuan finansial sangat krusial bagi mereka.

Baca juga:  Masuki Vaksinasi Tahap Dua, Usahawan Mikro Harus Siap Tancap Gas

“Melalui Pojok Modal, kami berupaya memfasilitasi para pemilik toko kelontong SRC dengan institusi permodalan yang kredibel, sehingga mereka bisa memanfaatkan skema pay-later untuk menjaga stok barang dan membuat bisnis tetap berjalan,” kata Mindaugas.

Mindaugas menambahkan, berdasarkan riset dari Litbang Kompas, pendapatan pemilik toko kelontong SRC pada 2019 mencapai hampir Rp70 triliun atau setara dengan 4,1 persen PDB ritel. Lebih jauh, 58 persen pemilik toko kelontong SRC adalah perempuan, dan 30 persen di antaranya berperan menafkahi keluarga.

“Antusiasme terhadap SRC juga terjadi pada pelanggan. Hingga Februari 2021, ada lebih dari 939.000 pelanggan telah terdaftar dalam aplikasi AYO SRC. Dalam aspek B2B (business to business), terdapat 80.000 pengguna aktif setiap minggunya dan tercatat 5,5 juta pemesanan terjadi di dalam platform dengan nilai transaksi lebih dari Rp 9 triliun sepanjang tahun 2020,” tambah Mindaugas.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
April 5, 2021, 8:16 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.