Mencegah Anak Stunting dengan Asuransi Kesehatan

Mencegah Anak Stunting dengan Asuransi Kesehatan

Selain pengetahuan soal stunting, pasangan yang berencana menikah, baru berumah tangga, berencana hamil termasuk bagi anak yang ada dalam kandungan juga perlu memiliki asuransi kesehatan.

Hal ini disarankan oleh Co-Founder MiPOWER by Sequis and Financial Planner Edwin Limanta karena ketika terjadi gangguan kesehatan pada masa kehamilan hingga terjadi stunting tentunya akan memerlukan banyak biaya untuk pengobatan.

Oleh karena itu, asuransi kesehatan sangat bermanfaat bagi keluarga, terutama pasangan yang merencanakan kehamilan. Dengan asuransi dapat membantu mewujudkan mimpi orangtua agar anak-anak mereka berkesempatan meraih hari esok yang lebih baik.

Baca juga: Apa Saja Manfaat dan Jenis Asuransi Persalinan?

“Saat harus melakukan pengobatan, asuransi akan sangat membantu meringankan pengeluaran keluarga sebab biaya pengobatan akan ditanggung oleh asuransi sesuai perjanjian polis dengan demikian finansial keluarga dapat tetap terjaga,” kata Edwin.

Asuransi kesehatan berkorelasi dengan masalah stunting. Sebab, jika terjadi stunting maka anak akan mudah sakit dan dapat mengalami gangguan fungsi kognitif.  Bila disertai dengan kenaikan berat badan yang berlebihan kelak akan lebih berisiko terkena penyakit kronis seperti diabetes, jantung, stroke, dan kanker saat dewasa. 

Untuk itu, Anda bisa mempertimbangkan Sequis Q Health Platinum Plus Rider asuransi kesehatan dari Sequis yang bisa dimiliki sejak  Tertanggung berusia 1 bulan yang memiliki Batas Manfaat Tahunan Keseluruhan (batasan manfaat asuransi yang diterima nasabah dalam setahun) yang nilainya hingga Rp1,5 miliar per tahun.

Baca juga: Kaum Produktif Perlu Perlindungan Penyakit Kritis

Adapun stunting dapat terjadi pada awal kehidupan, yaitu 1.000 hari sejak masa konsepsi hingga anak berusia dua tahun. Ini berarti, stunting masih dapat dicegah sejak masa kehamilan dengan melakukan deteksi stunting melalui pemeriksaan USG secara rutin.

Dokter Spesialis Gizi Klinik RSIA Bina Medika Bintaro, dr. Amalia Primahastuti, Sp.GK mengatakan, demi menghindari terjadinya pertumbuhan janin yang terhambat maka ibu hamil harus dalam kondisi tidak undernutrition (kekurangan gizi), juga harus terhindar dari infeksi selama hamil agar tidak terjadi kelahiran prematur.

Dengan melakukan pemeriksaan maka dapat diketahui apakah pertumbuhan janin sudah sesuai dengan usia. Kemudian setelah lahir, deteksi dini dapat dilakukan dengan secara rutin mengukur berat dan panjang atau tinggi badan setiap bulannya pada usia 0-12 bulan dan setiap 3 bulan pada usia 1-3 tahun.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
March 3, 2021, 8:59 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.