Bank DBS: Bank Indonesia Akan Mempertahankan Kebijakan Longgar

Bank DBS: Bank Indonesia Akan Mempertahankan Kebijakan Longgar

Dalam laporan DBS Group Research yang berjudul "Indonesia: Dovish hold for the year, eye on the Covid-19 curve", Bank DBS melihat adanya pergeseran arah kebijakan karena ruang untuk pemotongan lebih lanjut dipandang terbatas dibanding sebelumnya.

Terkait dengan Rupiah, Bank Indonesia (BI) berpendapat bahwa mata uang “pada dasarnya dihargai di bawah nilai sebenarnya”, didukung oleh keseimbangan eksternal, tren inflasi yang menguntungkan, dan likuiditas  domestik yang menarik di tengah likuiditas global,yang melimpah.

Sejak tahun lalu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS agak negatif, berlawanan dengan kecenderungan Yuan Cina namun tetap lebih baik jika dibandingkan dengan Rupee India dan mata uang pasar berkembang dengan volatilitas tinggi lain. Ekonom Bank DBS Radhika Rao memperkirakan kebijakan yang sudah ada saat ini akan dipertahankan sampai akhir tahun dengan memperhatikan kurva pandemi.

Baca juga: Bank Indonesia Turunkan BI7DRR 25 Bps Menjadi 3,5 Persen

Dalam catatan DBS Group Research, Stacking up Indonesia’s Policy Stance Against Other EMs, Ekonom DBS menyatakan bahwa bank sentral telah menjaga kredibilitasnya dengan baik, yang ditunjukkan dengan penurunan ekspektasi inflasi sejalan dengan waktu. Hal ini memungkinkan target inflasi BI turun sejalan dengan waktu ke kisaran 2-4 persen saat ini. 

Tahun ini, kecenderungan BI untuk mendorong pertumbuhan kemungkinan akan dilakukan melalui langkah-langkah non-suku bunga, seperti, penyediaan likuiditas, kebijakan makroprudensial, dorongan untuk transmisi suku bunga, dan peran pendukung di pasar obligasi, seperti tahun lalu.

Dalam siaran resminya pada Januari 2021, Bank Indonesia menegaskan kembali rencana pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana, yang bertujuan untuk mendanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021.

Baca juga: Bank Indonesia: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan IV 2020 Membaik

Terkait yang terakhir, BI telah membeli obligasi senilai Rp40,8 triliun di pasar perdana pada pertengahan Februari, 45 persen di antaranya melalui pembelian langsung (private placement). Kepemilikan bruto bank sentral atas obligasi pemerintah meningkat menjadi 22,7 persen dari total obligasi beredar, ini mendekati porsi investor asing, yang sebesar 25 persen pada akhir 2020.

Dengan penerbitan obligasi neto (bersih) tahun 2021 dipatok lebih dari Rp1.000 triliun, kehadiran aktif pemain domestik akan diperlukan untuk memastikan kelancaran program pinjaman. Investor asing telah kembali ke pasar utang sejak triwulan ke-4 tahun lalu dibandingkan dengan arus keluar pada triwulan I 2020.

Terkait suntikan likuiditas melalui pelonggaran kuantitatif terhadap industri perbankan, dukungan yang diberikan mencapai Rp750,4 triliun dengan Rp727 triliun merupakan anggaran tahun lalu dan sisanya 2021. BI juga menekankan perlunya transmisi kebijakan yang dipercepat karena jurang lebar antara tingkat suku bunga deposito berjangka pendek satu bulan, suku bunga kebijakan dan suku bunga dasar. 


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Feb. 24, 2021, 8:18 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.