Cara Menghitung Pajak Progresif Kendaraan di Jakarta

Cara Menghitung Pajak Progresif Kendaraan di Jakarta

Apakah Anda punya kendaan lebih dari satu dengan nama dan alamat yang sama? Maka Anda akan diwajibkan membayar pajak progresif kendaraan. Pengenaan pajak bagi kendaraan tercantum pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Secara definisi, pajak progresif adalah biaya pajak yang harus dibayar bila memiliki kendaraan baik mobil atau motor lebih dari satu yang memiliki kesamaan nama pemilik dan alamat tempat tinggal. Itulah sebabnya tarif pajak progresif cenderung naik sejalan dengan adanya penambahan jumlah kendaraan dan besaran nilainya.

Baca juga: 3 Cara Mudah Cek Pajak Kendaraan dari Rumah

Namun, sudahkan Anda tahu jika kepemilikan kedua untuk pembayaran pajak terbagi dalam tiga jenis kendaraan. Ketiga jenis kendaraan itu, yakni mempunyai kendaraan roda empat, mempunyai kendaraan roda kurang dari empat, dan mempunyai kendaraan roda lebih dari empat

Sebagai contoh, dalam satu rumah Anda mempunyai satu motor, satu mobil, dan satu truk. Kendaraan-kendaraan tersebut terdaftar atas nama pribadi. Maka kendaraan-kendaraan tersebut termasuk dalam kepemilikan pertama. Alasannya karena berbeda jenis kendaraan. Jadi, Anda hanya wajib membayar pajak progresif pertama.

Persentase Pajak Progresif


Kepemilikan pertama biasanya harus membayar pajak sebesar 2 persen, dan bertambah 0,5 persen sampai kepemilikannya mencapai ke-17 atau sebesar 10 persen. Di bawah ini terdapat daftar besaran tarif pajak progresif khusus untuk daerah di DKI Jakarta:

1. Kendaraan pertama dikenakan pajak sebesar 2 persen

2. Kendaraan kedua dikenakan pajak sebesar 2,5 persen,

3. Kendaraan ketiga dikenakan pajak sebesar 3 persen,

4. Kendaraan keempat dikenakan pajak sebesar 3,5 persen,

5. Kendaraan kelima dikenakan pajak sebesar 4 persen,

6. Kendaraan keenam dikenakan pajak sebesar 4.5 persen,

7. Kendaraan ketujuh dikenakan pajak sebesar 5 persen,

8. dan seterusnya hingga kepemilikan ke-17 dikenakan pajak sebesar 10 persen

Baca juga: Begini Cara Bayar Pajak Motor di Aplikasi LinkAja

Menghitung Tarif Pajak Progresif


Nominal pajak progresif berdampak pada total pajak kendaraan yang wajib Anda bayar. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) diperoleh dari hasil perhitungan Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) x koefisien PKB x tarif pajak. Untuk menghitung besaran tarif pajak progresif, perlu menentukan dua hal.

1. Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB)

Yang dimaksud dari NJKB adalah harga atau nilai dari Dispenda (Dinas Pendapatan Daerah) yang sebelumnya sudah memperoleh data dari Agen Pemegang Merek. Nominal NJKB bisa didapatkan dari rumus: (PKB/2) x 100. PKB sendiri singkatan dari Pajak Kendaraan Bermotor. Biasanya terdapat di lembar bagian belakang STNK

2. Efek negatif atas penggunaan kendaraan. Nilai yang ditentukan biasanya satu atau lebih

Hasil NJKB yang sudah diperoleh, coba kalikan dengan persentase pajak progresif berdasarkan urutan kendaraan yang dimiliki. Kemudian dapatkan nilai Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ) agar bisa memperoleh hasil pajak progresif tiap kendaraan.

Baca juga: Bingung Pilih Mobil Baru atau Bekas? Pertimbangkan 5 Hal ini

Menghitung Pajak Progresif Mobil


Bila Anda membeli empat mobil di tahun yang sama, di STNK, tertulis PKB mobil sebesar Rp1.500.000. Lalu SWDKLLJ sebesar Rp150.000. Maka perhitungan NJKB mobil adalah:

NJKB: (PKB/2) x 100 = (Rp 1.500.000/2) x 100 hasilnya Rp75.000.000

Perhitungan ini dimulai dari kendaraan pertama sebagai berikut:

1. Mobil Pertama

PKB: Rp75.000.000 x 2% = Rp1.500.000. SWDKLLJ: Rp 150.000. Pajak progresif : Rp1.500.000 + Rp150.000 = Rp 1.650.000

2. Mobil Kedua

PKB: Rp75.000.000 x 2,5% = Rp 1.875.000. SWDKLLJ: Rp150.000. Pajak: Rp 150.000 + Rp 1.875.000 = Rp 2.025.000

3. Dan seterusnya sesuai persentase pajak progresifnya.

Bagaimana sudah tahu bagaimana pajak progresif kendaraan itu dihitung. Nah, jika Anda punya kendaraan lebih dari satu, maka Anda dapat dengan mudah menghitung berapa pajak progresif yang perlu dibayarkan.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Jan. 25, 2021, 8:43 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.