Musibah Sriwijaya Air SJ182, Ini Jenis-jenis Asuransi Penerbangan

Musibah Sriwijaya Air SJ182, Ini Jenis-jenis Asuransi Penerbangan

Musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 menjadi duka mendalam bagi dunia penerbangan di Indonesia. PT Jasa Raharja (Persero) menyatakan telah melakukan pembayaran santunan asuransi penerbangan kepada ahli waris dari korban yang sudah teridentifikasi dalam kecelakaan pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182.

Musibah kecelakaan pesawat ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, pada 29 Oktober 2018, pesawat Lion Air JT- 610, rute Jakarta-Pangkal Pinang yang membawa 189 orang mengalami kecelakaan. Para korban kejadian itu terdiri dari 179 penumpang dewasa, 1 penumpang anak, 2 bayi, 2 pilot, 5 kru dinyatakan meninggal dunia.

Selain asuransi penerbangan yang diberikan dari Jasa Raharja, ada beberapa jenis asuransi penerbangan. Apa saja jenis asuransi penerbangan itu? Berikut penjelasan detailnya yang dirangkum dari banyak sumber oleh duitologi.com.

Baca juga: 5 Manfaat Asuransi Perjalanan

Dikutip dari laman Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), di Indonesia dikenal ada dua jenis asuransi penerbangan, yakni asuransi pesawat (aviation insurance) dan asuransi personal accident. Asuransi pesawat (aviation insurance) memberikan jaminan ganti rugi atas terjadinya resiko kerugian yang timbul dari kecelakaan yang terjadi selama periode asuransi berlangsung.

Asuransi pesawat ini menjamin kerusakan pesawat dan tanggung jawab (liability) maskapai penerbangan. Asuransi ini juga menjamin tanggung jawab hukum pihak ketiga atas kerusakan barang dan atau luka badan yang timbul dari pengoperasian pesawat

Sedangkan, asuransi personal accident merupakan perlindungan yang diberikan kepada penumpang dan kru pesawat. Hal itu tertuang dalam Kesepakatan itu sudah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia dan menjadi Permenhub Nomor 77 tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara.

Baca juga: Ini Ragam Pilihan Asuransi Perjalanan

Permenhub itu menyebutkan penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara akibat kecelakaan pesawat udara atau kejadian semata-mata ada hubungan dengan pengangkutan udara diberi ganti rugi sebesar Rp1,25 miliar per penumpang.

Sedangkan, penumpang yang meninggal ketika proses meninggalkan ruang tunggu menuju pesawat atau turun dari pesawat menuju ruang tunggu diberi ganti rugi senilai Rp500 juta per penumpang. Penumpang yang dinyatakan cacat tetap mendapat penanganan dokter dalam jangka waktu 60 hari kerja sejak kecelakaan juga diberi ganti rugi Rp1,25 miliar per penumpang.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Jan. 13, 2021, 8:30 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.