Pemulihan Ekonomi Indonesia 2021 Diperkirakan Tumbuh 4 Persen

Pemulihan Ekonomi Indonesia 2021 Diperkirakan Tumbuh 4 Persen

DBS Group Research memberikan pemaparan menganai prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021. Dalam Indonesia Outlook 2020, dalam memasuki 2021 pemerintah masih akan terus fokus pada penyeimbangan krisis kesehatan dengan pemulihan ekonomi hingga vaksinasi massal tercapai. 

Pada awal tahun ini, pemerintah memilih memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan menutup tempat umum, membatasi penggunaan kendaraan umum, dan mengurangi perjalanan antar provinsi, ketimbang menerapkan lockdown penuh. Langkah tersebut diambil dengan mempertimbangkan dampak ekonomi yang mungkin terjadi.

Sementara itu, pemerintah daerah juga menerapkan beberapa langkah-langkah pencegahan di wilayah masing-masing. Hal tersebut membantu memperlambat namun tidak menghentikan penyebaran infeksi. Dengan penerapan berbagai pembatasan, PDB kuartal kedua 2020 menyusut dari minus 5,3 persen secara tahunan namun mulai membaik ke angka minus 3,5 persen pada kuartal ketiga.

Baca juga: Sri Mulyani: Kuartal III 2020, Perekonomian Indonesia Minus3,49 Persen

Hingga akhir 2020, pemerintah masih akan berupaya menyeimbangkan antara keselamatan dengan mata pencaharian masyarakat sebagai langkah menjaga kestabilan perekonomian Indonesia. Pasalnya, jumlah kasus di Indonesia termasuk yang tertinggi di ASEAN dengan angka pasien terinfeksi secara terakumulasi melampaui 500.000 orang. 

Pemulihan ekonomi Indonesia kemungkinan berlangsung secara bertahap. Laporan DBS Group Research ini juga menerangkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan terkontraksi pada kuartal keepat 2020 meskipun kecil sebelum akhirnya akan naik pada 2021. DBS mempertahankan perkiraan pertumbuhan PDB tahun ini sekitar minus 2 persen secara tahunan dan 4 persen untuk 2021.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan III 2020 Membaik

“Untuk 2021, kami melihat Indonesia mengandalkan konsumsi, restocking perusahaan, dan ekspor netto untuk mendapatkan manfaat dari pelonggaran pembatasan, bersamaan dengan distorsi angka inflasi bulanan (base effect), yang menguntungkan, sementara dukungan fiskal, yang melambat, serta arah kurva pandemi, adalah risiko bagi proyeksi Indonesia,” tulis laporan tersebut. 

Dalam memasuki 2021, selain pandemi, fokus juga diarahkan pada perluasan manufaktur dan jejak investasi melalui Undang-undang Omnibus Law yang baru saja disahkan dan finalisasi perjanjian multilateral Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Posisi rupiah juga diperkirakan lebih stabil di kisaran Rp14.000-Rp15.000 per dolar AS pada 2021 setelah bergejolak pada 2020. Rupiah sempat anjlok 17 persen berada di level Rp16.625 per dolar AS pada bulan Maret saat wabah Covid-19 menyebabkan kelangkaan dolar AS secara global.

Baca juga: Mendorong Pemulihan Perekonomian Melalui Penguatan Investasi

Keadaan saat ini mendukung peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia. Likuiditas global mengalami surplus dengan tingkat margin diskon (discount margin, DM) secara umum rendah walaupun terdapat ledakan optimisme atas vaksin Covid-19. 

Dengan pemerintah di berbagai negara kemungkinan tidak akan menghentikan kesepakatan dan kemungkinan tidak memberi sinyal pengetatan hingga akhir 2021 untuk beberapa waktu, pemburu imbal hasil harus mengarahkan pemodal ke dalam aset rupiah, yang belum banyak tersentuh.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Dec. 4, 2020, 10:15 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.