Tantangan Industri Perbankan di Tahun 2021

Tantangan Industri Perbankan di Tahun 2021

Industri perbankan mengalami tekanan cukup besar tahun ini akibat dampak pandemi yang cukup besar terhadap perekonomian nasional. Tantangan yang dihadapi oleh industri perbankan tahun ini merupakan yang terbesar sejak krisis moneter di tahun 1998-1999. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan sampai dengan bulan September 2020 hanya tumbuh 0,12 persen year on year (yoy) yang merupakan pertumbuhan kredit terendah sejak bulan Mei tahun 2002, atau lebih dari 18 tahun terakhir.

Pada saat yang sama, kualitas aset perbankan cenderung menurun, dengan NPL sampai bulan Agustus 2020 tercatat sebesar 3,22 persen, tertinggi selama empat tahun terakhir. OJK menyebutkan bahwa pada bulan September NPL sedikit menurun menjadi 3,15 persen karena bank-bank masih terus melakukan restrukturisasi kredit. 

Baca juga: Perbankan di Era Digital, Pilihan atau Kebutuhan?

Bank-bank masih terus melakukan proses restrukturisasi hingga saat ini. Menurut data OJK, sampai dengan tanggal 28 September 2020, total kredit dari 100 bank yang telah direstrukturisasi, yang khusus terkena dampak Covid-19, mencapai Rp904,3 triliun dari total debitur sebanyak 7,5 juta.

Di masa pandemi ini, OJK juga telah memperpanjang program relaksasi restrukturisasi kredit terimbas pandemi. Namun ketentuan perpanjangan tersebut akan diperketat karena berkaitan dengan peningkatan manajemen risiko agar bank dapat mengantisipasi dampak lanjutan pasca-kebijakan restrukturisasi berakhir.

Ada empat substansi yang akan menjadi pokok ketentuan perpanjangan OJK 11 tahun 2020 terkait relaksasi restrukturisasi kredit terimbas pandemi. Regulasi perpanjangan restrukturisasi ini ditargetkan terbit pada akhir November 2020 dan implementasinya akan dimulai saat ketentuan POJK 11/2020 berakhir pada Maret 2021 dan berlaku sampai Maret 2022.

Baca juga: Penyaluran Kredit Bank Mandiri Meningkat 3,79 Persen

Bank Mandiri mempredikasi, tahun depan tantangan masih cukup tinggi dan bank masih harus berhati-hati di tahun 2021 untuk menjaga kualitas aset. Diperkirakan pertumbuhan kredit berkisar 1,0-1,5 persen tahun ini dan membaik menjadi 5,0 persen tahun depan. 

“Di sisi lain, NPL kemungkinan masih akan tetap stabil sekitar 3,0-3,5 persen di akhir tahun karena restrukturisasi yang masih berlanjut. Bank masih akan tetap selektif dalam menyalurkan kredit untuk menjaga kualitas aset,” tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Nov. 30, 2020, 9:09 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.