Sinergi dan Kolaborasi Keuangan Syariah dan Industri Halal

Sinergi dan Kolaborasi Keuangan Syariah dan Industri Halal

Indonesia memiliki bonus demografi sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Hal ini bisa menjadi potensi yang baik untuk mengembangkan industri halal di Indonesia. Selain jumlah penduduk muslim terbesar, Indonesia juga tercatat sebagai negara pengekspor produk halal keempat di dunia.

Industri halal diperkirakan menjadi new business dan new brand dengan potensi bisnis mencapai Rp30 ribu triliun di dunia. Industri halal dunia ini mencakup halal food, modest fashion, halal media, halal tourism, halal healthcare, halal cosmetics, serta haji & umrah. Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar mempunyai potensi ekonomi halal mencapai Rp3 ribu triliun per tahun. 

Namun, untuk mewujudkan industri halal di Indonesia membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari berbagai stakeholder keuangan syariah seperti perbankan syariah. Perbankan syariah harus harus berperan aktif menangkap peluang industri halal ini agar tidak hanya sebagai konsumen tetapi menjadi produsen produk halal di negeri sendiri. 

Baca juga: Merger 3 Bank Syariah BUMN Akan Memperkuat Keuangan Syariah Indonesia

Mengacu data terkini statistik perbankan Indonesia dan statistik perbankan syariah yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), aset perbankan syariah masih tumbuh sebesar 9,22 persen, lebih tinggi dari perbankan konvensional yang tumbuh 4,98 persen. Dengan postur aset tersebut, perbankan syariah memiliki market share sebesar 6,13 persen.

Penggabungan (merger) tiga bank syariah milik BUMN, yakni BRI Syariah, Mandiri Syariah, dan BNI Syariah bisa angin segar untuk pengembangan industri halal di Tanah Air. Hasil merger ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi ekosistem halal demi mewujudkan Indonesia sebagai produsen produk-produk halal di negeri sendiri dan dunia.

Bank syariah perlu menjadi kolaborator yang menghubungkan stakeholder industri halal dan ekosistem halal. Selain itu, bank syariah juga perlu meningkatkan peran intermediary untuk mendukung produsen industri halal melalui akses permodalan.


Peran pemerintah juga tidak kalah penting untuk merealisasikan industri halal di Indonesia. Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat menjelaskan, pemerintah sangat berkomitmen dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah

“Untuk menopang industri halal perlu lembaga keuangan syariah yang kuat, termasuk di dalamnya perbankan syariah yang menopang industri produk halal sehingga tercipta halal value chain,” papar Sutan Emir Hidayat dalam workshop mengenai literasi dan inklusi keuangan perbankan syariah bertema Bank Syariah dan Tren Halal Lifestyle di Indonesia.

Dalam pandangannya, bukan hanya peningkatan industri halal, sangat penting juga untuk mengembangkan dan memperluas kegiatan usaha syariah yang memunculkan UMKM yang berorientasi ekspor. 

Baca juga: Gubernur BI: Ekonomi Syariah Sebagai Arus Baru Menuju Indonesia Maju

“Perlu disiapkan infrastruktur, baik itu berupa kawasan industri halal, laboratorium industri halal, pelabuhan halal untuk memunculkan produk-produk yang inovatif, yang tidak hanya berorientasi domestik tetapi juga global,” tambah Sutan Emir Hidayat.

Tantangan Industri Halal 

Meskipun peluangnya sangat besar, ada tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan bisnis halal di Indonesia ke depannya. Tantangan itu antara lain banyak perubahan yang tidak terduga (turbulent) sehingga membuat lingkungan bisnis, sosial, dan industri berubah sangat cepat. Selain itu, faktor ketidakpastian (uncertainty) juga menyebabkan banyak hal baru yang sifatnya tidak terduga (novelty) dan faktor ketidakjelasan akibat terlalu banyak informasi (ambiguous). 

“Semua faktor tersebut menjadi tantangan kita dalam mengembangkan ekosistem halal di Indonesia,” kata Direktur Keuangan dan Operasional BNI Syariah Wahyu Avianto dalam webinar dengan tema Reconstruction of The Halal Industry Towards Indonesia as The Center For Global Islamic Economy.

Baca juga: OJK: Perlu Ada Terobosan Mendorong Pertumbuhan Keuangan Syariah

Namun, tantangan itu bisa dijawab dengan melakukan inovasi dan kolaborasi. Bentuknya bisa berupa inovasi digital guna meningkatkan peran bank syariah, bukan hanya dari sisi permodalan tetapi juga untuk mempermudah sistem pembayaran.

Selain digitalisasi, untuk meningkatkan industri halal juga harus dilakukan melalui kolaborasi. Kolaborasi ini dilakukan BNI Syariah salah satunya dengan mengembangkan Platform Sekolah Pintar. Dengan kolaborasi, peran bank sebagai kolaborator dengan ekosistem terkait (open banking).


Pengembangan Industri Halal

Pengembangan industri halal di Indonesia membutuhkan kerja sama dari semua stakeholder. Namun, dalam pengembangan industri halal dibutuhkan empat langkah strategis yang perlu menjadi fokus ke depan agar dapat berkontribusi lebih optimal terhadap pertumbuhan ekonomi.

Empat strategi pengembangan industri halal itu disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng dalam pembukaan High Level Seminar on Halal Lifestyle 2020 “New Strategy and Business Model of Halal Business” sekaligus Soft Launching ISEF Integrated Virtual Platform 2020.

Pertama, membentuk sebuah brand halal dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang produk halal. Sebagai contoh, memberi pemahaman bahwa makanan halal itu adalah makanan sehat.

Baca juga: 3 Faktor Pendorong Pertumbuhan Perbankan Syariah di Era New Normal

Kedua, membangun jejaring kerja sama dari berbagai unit usaha. Jejaring itu antara lain melalui pengembangan jejaring unit bisnis pondok pesantren yang tergabung dalam Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN). Hal itu akan meningkatkan efisiensi dan posisi tawar (bargaining position), serta mendorong transaksi jual beli antara unit usaha di pesantren.

Ketiga, memperkuat pembiayaan syariah melalui integrasi pembiayaan sosial syariah dengan pembiayaan komersial syariah. Keempat, mendorong digitalisasi, salah satunya melalui pembentukan platform Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA) yang menampilkan produk halal berkualitas dan meningkatkan kolaborasi untuk penyaluran pembiayaan syariah.

Hal tersebut dilaksanakan melalui kerja sama antara lembaga keuangan mikro syariah (Baitul Mal Wattamwil) dan perusahaan teknologi finansial syariah dengan menggunakan aplikasi ponsel pintar. Hingga Juli 2020, terdapat lebih dari 50 perusahaan teknologi finansial yang sudah menyalurkan pembiayaan syariah hampir sebesar Rp4 triliun.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Nov. 12, 2020, 9:03 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.