Dampak Covid-19 Memperburuk Sistem Pensiun

Dampak Covid-19 Memperburuk Sistem Pensiun

Berdasarkan laporan tahunan Mercer CFA Institute Global Pension Index 2020, dampak ekonomi yang luas dari Covid-19 menambah tekanan finansial yang dihadapi pensiunan, baik saat ini maupun di masa depan. Ditambah dengan meningkatnya usia harapan hidup dan tekanan publik untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan populasi usia lanjut, Covid-19 memperburuk kondisi pensiun.

Skor sub-indeks keberlanjutan rata-rata menurun 1,2 poin pada tahun 2020 karena pertumbuhan ekonomi negatif yang dialami oleh sebagian besar negara akibat Covid-19. Menurut Senior Partner Mercer David Knox, resesi ekonomi akibat krisis kesehatan global telah menyebabkan penurunan kontribusi pensiun, imbal hasil investasi yang lebih rendah, dan peningkatan utang pemerintah di hampir semua negara.

Baca juga: Apa Dampak Resesi Ekonomi bagi Masyarakat Indonesia?

Tak pelak, kondisi ini akan berdampak pada sistem pensiun di masa mendatang, yang berarti sebagian orang harus bekerja lebih lama dan sebagian orang lainnya harus puas dengan standar hidup yang lebih rendah saat pensiun. “Sangat penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan sistem mereka dalam memastikan hasil jangka panjang yang lebih baik bagi pensiunan,” kata David Knox.

Presiden dan CEO CFA Institute Margaret Franklin menyatakan, bahkan sebelum Covid-19, banyak sistem pensiun publik dan swasta di seluruh dunia mendapat tekanan untuk mempertahankan manfaat. “Kami telah mempelajari keefektifan sistem pensiun selama bertahun-tahun, dan meskipun tidak ada model sistem pensiun tunggal yang akan berhasil di semua negara, Global Pension Index 2020 menyediakan informasi komparatif untuk menentukan hal-hal yang mungkin dan mudah diterapkan di setiap negara,” jelas Margaret.


Sistem Pensiun di Masa Mendatang

Dampak Covid-19 jauh lebih luas bukan hanya terhadap kesehatan, namun juga dampak ekonomi jangka panjang yang memengaruhi industri, suku bunga, imbal hasil investasi, dan kepercayaan masyarakat di masa mendatang. Akibatnya, ketersediaan dana pensiun yang cukup dan berkelanjutan untuk jangka panjang juga berubah.

Tingkat utang pemerintah di banyak negara juga telah bertambah akibat Covid-19. Peningkatan utang ini kemungkinan akan membatasi kemampuan pemerintah mendukung populasi lanjut usia, baik melalui program pensiun maupun layanan lain seperti kesehatan atau perawatan lanjut usia. Untuk membantu meringankan dampak Covid-19, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung warga dan sistem pensiun.

Baca juga: Berapa Dana Pensiun yang Dibutuhkan? Ini Simulasinya

Profesor Deep Kapur, Direktur Monash Centre for Financial Studies (MCFS), mengatakan bahwa banyak pemerintah di seluruh dunia telah merespon Covid-19 dengan stimulus fiskal yang substansial, dan bank sentral telah mengadopsi kebijakan moneter nonkonvensional. “Proyeksi imbal hasil investasi rendah saat volatilitas meningkat, menambah tantangan manajemen risiko portofolio dana pensiun.

“Selain itu, pemerintah beberapa negara mengizinkan akses ke tabungan pensiun atau mengurangi iuran wajib untuk meningkatkan likuiditas rumah tangga. Hal ini kemungkinan besar akan berdampak kepada kecukupan, keberlanjutan, dan integritas sistem pensiun, sehingga memengaruhi perubahan indeks pensiun global di tahun-tahun mendatang,” tambah Kapur.


Pada bulan Juni, pemerintah mengalokasikan paket stimulus senilai Rp677,2 triliun untuk memulihkan ekonomi dan membuat dunia usaha dan karyawan mampu bertahan. Ini termasuk Rp37,7 triliun untuk program subsidi gaji kepada peserta aktif BPJS yang memiliki gaji di bawah Rp5 juta per bulan. Penerima yang berhak menerima subsidi hingga Rp2,4 juta, yang akan disalurkan dua kali masing- masing sebesar Rp1,2 juta setiap dua bulan.

Pemerintah telah memfokuskan upaya mempertahankan lapangan kerja dan bisnis untuk memitigasi dampak finansial dan ekonomi dari krisis Covid-19. Penurunan ekonomi yang akan datang pasti akan berdampak pada kemampuan pemberi kerja dan karyawan untuk membayar iuran pensiun, sementara ketidakpastian pasar bisa membebani kinerja dana pensiun.

Baca juga: Cara Terbaik untuk Mengelola Dana Pensiun

Sangat penting bagi pengelola dana pensiun untuk melihat dengan cermat strategi dan portofolio mereka demi ketahanan dan keberlanjutan jangka panjang,” ucap Jovita Sadrach, Retirement Business Leader Mercer Indonesia.

Covid-19 juga telah meningkatkan kesenjangan gender dalam ketersediaan dana pensiun. Sebelum pandemi, kesenjangan tabungan pensiun di Asia diperburuk oleh usia harapan hidup wanita yang lebih panjang, partisipasi wanita yang lebih rendah dalam angkatan kerja, dan ketidaksetaraan gaji berdasarkan gender.

“Sekarang kesenjangan melebar di banyak sistem pensiun, terutama di sektor-sektor yang paling terpukul di mana wanita mewakili lebih dari setengah angkatan kerja, seperti perhotelan atau makanan,” ungkap Janet Li, Wealth Business Leader Mercer Asia.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 22, 2020, 8:25 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.