Empat Langkah Strategis Pengembangan Industri Halal

Empat Langkah Strategis Pengembangan Industri Halal

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Hal ini sebenarnya dapat menjadi potensi yang bagus bagi Indonesia dalam mengembangkan industri berbasis halal. Indonesia mempunyai populasi muslim terbesar di dunia dan pengekspor produk halal keempat terbesar di dunia.

Pengembangan industri halal di Indonesia membutuhkan kerja sama dari semua stakeholder. Namun, dalam pengembangan industri halal dibutuhkan empat langkah strategis yang perlu menjadi fokus ke depan agar dapat berkontribusi lebih optimal terhadap pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Peluang dan Tantangan Bisnis Industri Halal di Indonesia

Empat langkah strategis tersebut, yaitu membentuk suatu brand halal yang kuat, membangun jejaring kerja sama, memperkuat pembiayaan syariah serta mendorong digitalisasi. Hal itu disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng dalam pembukaan High Level Seminar on Halal Lifestyle 2020 “New Strategy and Business Model of Halal Business” sekaligus soft launching ISEF Integrated Virtual Platform 2020.

Lebih lanjut, Sugeng menguraikan empat strategi pengembangan industri halal ke depan. Pertama, membentuk suatu brand halal dengan memberikan pemahaman memadai kepada masyarakat tentang produk halal. Misalnya, makanan halal itu adalah makanan sehat.


Kedua, membangun jejaring kerjasama dari berbagai unit usaha, termasuk antara lain melalui pengembangan jejaring unit bisnis pondok pesantren yang tergabung dalam Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN).

Pada tahun 2020, terdapat ratusan unit bisnis atau UMKM di pesantren yang akan diintegrasikan melalui HEBITREN, sehingga dapat meningkatkan skala ekonomi pesantren. Hal itu akan meningkatkan efisiensi dan posisi tawar (bargaining position), serta mendorong transaksi jual beli antara unit usaha di pesantren.

Baca juga: Peran Perbankan Syariah dalam Pengembangan Industri Halal

Ketiga, memperkuat pembiayaan syariah melalui integrasi pembiayaan sosial syariah dengan pembiayaan komersial syariah. Keempat, mendorong digitalisasi, antara lain melalui pembentukan platform IKRA (Industri Kreatif Syariah Indonesia) yang sejak 2018 menampilkan produk halal yang berkualitas, serta meningkatkan kolaborasi untuk penyaluran pembiayaan syariah.

Hal tersebut dilaksanakan melalui kerjasama antara lembaga keuangan mikro syariah (Baitul Mal Wattamwil) dan perusahaan teknologi finansial syariah dengan menggunakan aplikasi ponsel pintar. Hingga Juli 2020, terdapat lebih dari 50 perusahaan teknologi finansial yang sudah menyalurkan pembiayaan syariah hampir sebesar Rp4 triliun.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Oct. 6, 2020, 8:52 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.