Apa Dampak PSBB Jakarta Jilid II di Industri Properti?

Apa Dampak PSBB Jakarta Jilid II di Industri Properti?

Adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid II akan membuat keadaan industri properti semakin sulit. Hal itu disampaikan oleh Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam menanggapi dampak pembelakukan PSBB yang diperketat di DKI Jakarta. Berikut ini tanggapan lengkap Ferry Salanto:

Bagaimana PSBB Jilid II di DKI Jakarta Akan Mempengaruhi Industri Properti?

Ferry menilai, sejak fase pertama PSBB telah melihat perlambatan atau penurunan traffic dari pengunjung pusat perbelanjaan yang berujung pada penurunan penjualan yang mempengaruhi sebagian besar toko. Dengan adanya "rem darurat" dari Pemprov DKI Jakarta, kondisi ini tidak ideal bagi industri properti karena akan terjadi penurunan penjualan dan pendapatan.

“Di sektor residensial, kami melihat banyak keterlambatan pembelian, dimana minat beli juga berkurang. Pada tahap awal PSBB tahap I, banyak orang yang memilih untuk tidak melakukan pembelian dalam jumlah besar atau tidak penting. Saat kami dalam transisi PSBB, pembelian mungkin telah meningkat meskipun tidak secara signifikan. Sekarang, karena fase kedua PSBB, orang kemungkinan besar akan kembali menunda pembelian,” katanya.

Baca juga: PSBB Jakarta Diperketat, Apa Dampaknya Terhadap Perekonomian?

Kemudian, untuk sektor komersial seperti perkantoran, PSBB tahap II tentunya akan mengembalikan ke posisi semula, dimana perkantoran diharapkan menerapkan sistem work from home (WFH) kepada seluruh karyawannya. Dengan begitu, seperti yang mungkin sudah pernah kita alami sebelumnya, berdampak pada ruang yang dibutuhkan perusahaan.

Di sisi tenant, meski belum pulih dari situasi awal PSBB, kini mereka harus kembali mengalami kesulitan baru di fase kedua. Omzet mereka akan menurun lagi, dan penyewa pada akhirnya akan kembali untuk bernegosiasi dengan pemilik bangunan untuk sewa dan jangka waktu pembayaran.

Sektor hotel sebagai sektor yang pertama kali terkena dampak PSBB, agak membaik selama masa transisi dan sekarang kembali ke kondisi awal. Pada awal PSBB pertama, penurunan terjadi hingga 10 persen untuk kasus tertentu, karena aktivitas bisnis dan liburan menurun secara signifikan. Adapun saat ini, dengan adanya PSBB tahap II, sektor perhotelan harus kembali mencari strategi lain agar bisa bertahan seperti yang dilakukan pada PSBB awal.

Baca juga: Solusi Pengelolaan Dana dan Investasi Properti di Masa Pandemi

Sektor Ritel merupakan salah satu sektor yang juga cukup terpengaruh sejak awal. Selama masa transisi, lalu lintas banyak sekali, meski tidak cukup. Agar suatu pusat perbelanjaan memiliki kinerja yang baik, maka diperlukan okupansi yang tinggi dan traffic yang tinggi agar dapat terjadi transaksi. Kini dengan PSBB fase kedua, ritel akan kesulitan. Dengan adanya sejumlah ketentuan yang berlaku untuk pusat perbelanjaan atau ritel, dapat mempersulit kinerja sektor ini pulih dengan cepat.


Bagaimana Prediksi Resesi pada Kuartal Ketiga Mempengaruhi Industri Properti?

Industri properti sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Jika pada kuartal ketiga kembali menunjukkan angka negatif, maka tidak menutup kemungkinan akan masuk ke dalam resesi. Bahkan tanpa PSBB, banyak ekonom memperkirakan penurunan lebih lanjut, meski tidak sedalam kuartal kedua. Meski secara regional, resesi ekonomi sebenarnya merupakan hal yang lumrah dalam kondisi tersebut.

Tetapi pertanyaannya adalah, bagaimana kita keluar dari resesi itu dengan cepat? Dengan kondisi ekonomi saat ini, daya beli masyarakat semakin berkurang, dan masyarakat cenderung lebih selektif dalam melakukan pembelian, kebutuhan pokok akan lebih diutamakan, dan hal ini akan berdampak pada properti juga.

Baca juga: Seberapa Siap Indonesia Memulihkan Ekonomi?

Tanpa PSBB, Colliers menilai kemungkinan pada akhir tahun 2020 pertumbuhan atau tren akan menurun, karena pertumbuhan properti sejalan dengan produk domestik bruto (PDB). Jika PDB pada akhir tahun diperkirakan akan anjlok hingga minus 2,7 persen (menurut Oxford Economics), berarti properti sulit untuk pindah ke kondisi semula, dan ini berarti masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk pulih,” jelas Ferry.

Bagaimana Sektor Properti Dapat Menjadi Investasi yang Aman di Masa Pandemi ini?

Sekarang adalah saat yang tepat untuk berinvestasi. Properti sebenarnya adalah industri yang tepat untuk berinvestasi. Masyarakat seharusnya tidak hanya melihat situasi dari perspektif jangka pendek karena industri properti memiliki siklus. Saat ini, meski cukup rendah, ada kalanya properti akan rebound.

“Kami melihat banyak investor, terutama yang berasal dari luar negeri, kini sudah bersiap-siap karena mengantisipasi rebound ini terjadi. Karena itu, inilah momentum yang tepat dan harus diperhatikan dalam jangka panjang. Artinya, ketika properti memasuki posisi rebound-nya, produk sudah siap dan bisa diserap pasar,” ucap Ferry.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Sept. 18, 2020, 10:31 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.