Peluang dan Tantangan Bisnis Industri Halal di Indonesia

Peluang dan Tantangan Bisnis Industri Halal di Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Hal ini sebenarnya dapat menjadi potensi yang bagus bagi Indonesia dalam mengembangkan industri berbasis halal. Indonesia mempunyai populasi muslim terbesar di dunia dan pengimpor produk halal keempat terbesar di dunia.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno dalam Webinar dengan tema ”Reconstruction of The Halal Industry Towards Indonesia as The Center For Global Islamic Economy” yang diselenggarakan BNI Syariah bersama Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis (KSEI FEB) Universitas Diponegoro, (12/9/2020).

Baca juga: PSBB Jakarta Diperketat, Apa Dampaknya Terhadap Perekonomian?

Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, ekonomi halal, UMKM dan sektor konsumsi adalah salah satu solusi kebangkitan ekonomi Indonesia. Dengan melakukan rekonstruksi di industri halal, diharapkan Indonesia bisa menjadi pusat episentrum dari global islamic economic.

Perbankan syariah memiliki peluang yang besar didukung oleh besarnya potensi bisnis industri halal. Berdasarkan riset dari State of the Global Islamic Economy Report tahun 2019, potensi bisnis industri halal sebesar US$2,2 triliun, terdiri dari halal food, fashion, media, tourism, pharmacy, cosmetics, dan umrah.


Sementara itu, Direktur Keuangan dan Operasional BNI Syariah Wahyu Avianto menjelaskan, bisnis industri halal ke depannya masih akan menghadapi beberapa tantangan di antaranya adalah banyaknya terjadi perubahan yang tidak terduga (turbulent) sehingga membuat lingkungan bisnis, sosial, dan industri berubah sangat cepat.

Selain itu, faktor ketidakpastian (uncertainty) menyebabkan banyak hal baru yang sifatnya tidak terduga (novelty), serta ketidakjelasan akibat terlalu banyak informasi (ambiguous). “Semua faktor tersebut menjadi tantangan kita dalam mengembangkan ekosistem halal,” kata Wahyu.

Baca juga: Jakarta PSBB, Ada 11 Sektor Bisnis yang Dibolehkan Tetap Beroperasi

Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan inovasi dan kolaborasi. Inovasi digital saat ini meningkatkan peran bank syariah, tidak hanya dari sisi permodalan tapi juga untuk mempermudah sistem pembayaran.

Selain digitalisasi, untuk meningkatkan industri halal juga harus dilakukan melalui kolaborasi. Kolaborasi ini dilakukan BNI Syariah salah satunya dengan mengembangkan Platform Sekolah Pintar. Dengan kolaborasi, menurut Wahyu Avianto, peran bank sebagai kolaborator dengan ekosistem terkait (open banking).

BNI Syariah saat ini fokus untuk mengembangkan produk-produk digital di antaranya melalui uang elektronik HasanahKu dan fasilitas pembukaan rekening melalui Hasanah Online. Tidak hanya commercial finance, bank syariah juga menjalankan social finance.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Sept. 14, 2020, 9:11 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.