Menemukan Peluang di Tengah Pemulihan Ekonomi

Menemukan Peluang di Tengah Pemulihan Ekonomi

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan banyak perubahan besar di segala aspek kehidupan, terutama dalam hal dampak ekonomi yang ditimbulkannya. Roda perekonomian negara-negara di dunia terganggu, tidak terkecuali Indonesia. Produk Domestik Bruto (PDB) di triwulan kedua mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen secara tahunan.

Ini merupakan penurunan perekonomian negara terendah sepanjang sejarah bangsa Indonesia. Namun untuk menggerakkan kembali roda perekonomian, pemerintah telah meluncurkan berbagai stimulus untuk membantu berbagai lapisan masyarakat. Salah satunya restrukturisasi kredit di sektor bisnis khususnya UMKM.

Dengan diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sebagian besar wilayah di triwulan kedua dalam upaya menekan angka penyebaran kasus positif Covid-19, penurunan kinerja perekonomian telah diperkirakan.

Baca juga: Jakarta PSBB Ketat, Ada Peluang Bisnis Baru dalam Pameran Virtual

Berbagai sektor mengalami penurunan secara keseluruhan. Sektor pakaian, alas kaki, dan jasa pemeliharaan turun sebesar minus 5,13 persen, transportasi dan komunikasi turun sebesar minus 15,3 persen, serta restoran dan hotel mengalami penurunan sebesar  minus 16,53 persen yang mana merupakan sektor yang paling parah terdampak.

Berbagai upaya telah dan terus dilakukan oleh pemerintah untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Sejumlah stimulus di beberapa sektor telah diberikan untuk membantu masyarakat kelas bawah, seperti bantuan langsung tunai, paket sembako, program kartu prakerja, dan lain sebagainya. Ke depan, stimulus juga akan diberikan untuk konsumen kelas menengah.


Ada beberapa faktor yang bisa menggairahkan perekonomian, terutama dari sisi konsumsi di paruh kedua 2020. Faktor-faktor tersebut di antaranya gaji ke-13 untuk Pegawai Negeri Sipil dengan anggaran Rp28,5 triliun, bantuan untuk UMKM sebesar Rp24 triliun, dan cash-back voucher dengan anggaran sebesar Rp7,6 triliun untuk mendorong masyarakat membeli produk UMKM melalui program Bangga Buatan Indonesia.

“Selain itu, pemerintah juga telah menganggarkan dana sebesar Rp37 triliun untuk memberi stimulus selama empat bulan bagi masyarakat yang berpenghasilan di bawah Rp5 juta per bulan,” kata Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan dalam acara DBS eTalk Series.

Baca juga: Apa Dampak Resesi Ekonomi Bagi Masyarakat Indonesia?

Konsumsi domestik dan penjualan ritel rumah tangga menjadi salah satu kunci utama dalam menggerakkan PDB Indonesia yang saat ini mendominasi hingga 58 persen dari ekonomi Indonesia. Di sisi lain, pandemi bukan berarti masyarakat tidak dapat berinvestasi. Namun memang para investor ritel perlu mengkaji ulang portofolio yang dimiliki dan beradaptasi di iklim investasi era baru.

Terkait dengan pelemahan rupiah yang bahkan sempat mencapai Rp16.000 di awal terjadinya pandemi di Indonesia, Ronny menyampaikan bahwa hal tersebut hanya bersifat sementara. Perlahan-lahan rupiah menguat dan diperkirakan rupiah bisa turun ke Rp14.000 hingga akhir tahun.

“Ke depannya, opportunity investasi lebih ada di rupiah. Menempatkan rupiah di deposito dengan bunga 6-7 persen long term dan pelemahannya selama sepuluh tahun terakhir di sekitar 3,98 persen, investasi di rupiah akan memberikan hasil yang lebih menguntungkan dalam hal ini,” ungkap Ronny Setiawan, Head of Trading, Treasury & Markets, PT Bank DBS Indonesia.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Sept. 10, 2020, 1:20 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.