Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama Tutup Usia

Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama Tutup Usia

Duka menyelimuti Kompas Gramedia. Hari ini, 9 September 2020, Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Peminpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama tutup usia dalam usia 88 tahun. Beliau meninggal dunia Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading pada pukul 13.05 WIB.

Nama Jakob Oetama tidak akan lepas dari dunia jurnalistik di Tanah Air. Pria yang lahir pada 17 September 1937 di Desa Jowahan, Borobudur, Jawa Tengah ini merupakan jurnais senor dan salah satu tokoh pers nasional.

Karier Jakob Oetama di dunia jurnalistik bermula dari pekerjaan sebagai redaktur majalah Penabur Jakarta. Pada 1963, bersama sahabatnya, Almarhum Petrus Kanisius Ojong (P.K. Ojong), Jakob Oetama menerbitkan majalah Intisari yang menjadi cikal bakal Kompas Gramedia.

Kepekaannya pada permasalahan kemanusiaan, mendorong penerbitan Harian Kompas yang pertama kali terbit pada 1965. Hingga saat ini, lebih dari setengah abad, Kompas Gramedia berkembang menjadi bisnis multi-industri.


“Keberhasilan tidak diukur ketika para pendiri dan penerusnya masih ada, tetapi menjadi tantangan besar terus dihidupi cita-cita besar itu tanpa meninggalkan kekhasan perkembangan zaman sedemikian hebat yang niscaya dihadapi oleh para penerusnya”


Sosoknya sangat konsisten dengan dunia jurnalistik. Identitas dirinya tidak pernah lepas dari jiwa wartawan. Bagi Jakob Oetama, wartawan adalah profesi, tetapi pengusaha karena keberuntungan.

Semasa hidup, Jakon Oetama dikenal sebagai sosok yang sederhana, selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme. Beliau memegang teguh pada Humanisme Transedental yang ditanamkan sebagai fondasi Kompas Gramedia.

Idealisme dan falsafah hidupnya telah diterapkan dalam setiap sayap bisnis Kompas Gramedia yang mengarah pada satu tujuan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

Corporate Communication Director Kompas Gramedia Rusli Amral mengenang sosok Jakob Oetama adalah legenda, jurnalis sejati yang tidak hanya meninggalkan nama baik, tetapi juga keberhasilan serta nilai-nilai kehidupan bagi Kompas Gramedia.

“Beliau sekaligus teladan dalam profesi wartawan yang turut mengukir sejarah jurnalistik bangsa Indonesia. Walaupun kini beliau telah tiada, nilai dan idealismenya akan tetap hidup dan abadi selamanya,” ucap Rusli.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Sept. 9, 2020, 4:17 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.