Akankah Indonesia Mengalami Resesi Ekonomi?

Akankah Indonesia Mengalami Resesi Ekonomi?

Dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia semakin terasa. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2020 menurun sangat tajam menjadi minus 5,3 persen. Padahal, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama masih positif mencapai 2,97 persen.

Terkontraksinya pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun ini memang di luar prediksi. Sebelumnya, pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka minus 4,3 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam konferensi pers virtual mengatakan, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia juga mengalami kotraksi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia semester pertama 2020 dibandingkan dengan semester pertama 2019 mengalami kontraksi 1,29 persen.

Baca juga: Mampukah Indonesia Bertahan dari Krisis Ekonomi Akibat Pandemi

Penyebab utamanya adalah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal tahun 2020. Pandemi ini memberi efek domino yang sangat luas bagi semua sektor perekonomian dan mendera seluruh lapisan masyarakat mulai dari rumah tangga, UMKM hingga korporasi.

Dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua yang mencapai minus 5,3 persen, apakah Indonesia akan masuk dalam jurang resesi ekonomi? Secara teori, Indonesia belum bisa dikatakan mengalami resesi ekonomi. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi yang mencapai minus baru dialami pada kuartal kedua, sedangkan kuartal pertama pertumbuhannya masih positif.

Suatu negara dikatakan mengalami resesi ekonomi apabila pertumbuhan ekonomi minus selama dua kuartal berturut-turut. Indonesia baru akan mengalami resesi ekonomi apabila petumbuhan ekonomi terus terkontraksi (minus) lebih besar mulai kuartal ketiga dan seterusnya.


Selain indikator pertumbuhan ekonomi yang minus selam dua kuartal berturut-turut, masih ada parameter lain yang menunjukkan suatu negara mengalami resesi ekonomi. Parameter itu antara lain:

• Penurunan pekerjaan di bidang non-pertanian sebesar 1.5 persen.

• Peningkatan angka pengangguran sebesar 2 poin.

• Penurunan kegiatan manufaktur dalam 6 periode.

• Jumlah lapangan kerja menurun 75 persen selama 6 bulan.

• Penurunan PDB mencapai angka 1.5 persen.

Baca juga: Apa Perbedaan Krisis Akibat Pandemi 2020 dengan Krisis 1998?

Berdasarkan data BPS, ada sektor bisnis yang mengalami penurunan, tetapi ada pula lini bisnis yang justru mengalami kenaikan akibat pandemi Covid-19. Berikut ini beberapa sektor bisnis yang mengalami penurunan signifikan.

1. Sektor transportasi dan pergudangan minus 30,84.

2. Akomodasi dan makanan minuman minus 22,02.

3. Jasa perusahaan minus 12,09.

4. Perdagangan minus 7,57.

5. Industri minus 6,19.

6. Pengadaan listrik dan gas minus 5,46.

7. Konstruksi minus 5,39.

8. Pertambangan minus 2,72.

Baca juga: Apa Persiapan Jika Terjadi Ancaman Resesi Ekonomi 2020?

Sementara itu, beberapa sektor bisnis yang mengalami peningkatan saat pandemi ini terjadi

1. Sektor infokom naik 10,88 persen.

2. Pengadaan air naik 4,56 persen.

3. Jasa kesehatan naik 3,71 persen.

4. Real Estate naik 2,30 persen.

5. Pertanian naik 2,19 persen.

6. Jasa pendidikan naik 1,21 persen.

7. Jasa keuangan naik 1,03 persen.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Aug. 10, 2020, 8:09 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.