142 Anggota AFPI Melapor ke Fintech Data Center

142 Anggota AFPI Melapor ke Fintech Data Center

Sejak diluncurkan, Fintech Data Center (FDC) menjadi perhatian bagi pelaku fintech lending karena bisa menjadi database untuk meminimalisir risiko pada industri fintech peer to peer (P2P) lending. Selama masa pandemi Covid-19, sudah hampir 90 persen atau 142 anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) yang melapor ke Fintech Data Center (FDC).

Dengan demikian diharapkan mitigasi risiko akan meningkat seiring banyaknya anggota yang terkoneksi dengan pusat data fintech lending ini. Semakin banyak anggota AFPI yang melapor ke FDC akan meningkatkan mitigasi risiko di industri fintech peer to peer (P2P) lending.

Baca juga: Fintech Data Center Cegah Permainan Debitur Nakal

Ketua Umum AFPI Adrian Gunadi mengatakan, para anggota dapat mengecek rekam jejak dan profil calon peminjam sehingga mencegah peminjam yang melakukan peminjaman di banyak platform fintech P2P lending secara bersamaan.

"Keberadaan FDC semakin penting di masa pandemi Covid-19 ini untuk menurunkan risiko pinjaman bermasalah, di mana penyelenggara fintech P2P lending semakin selektif memberikan pinjaman. Ke depannya seluruh anggota AFPI akan terkoneksi dan melapor ke pusat data fintech P2P lending ini," ucapnya.

Baca juga: Agar Aman, Nasabah Fintech Butuh Perlindungan Data Pribadi

Dengan semakin banyaknya penyelenggara fintech P2P lending menyampaikan datanya ke FDC, maka kuantitas data yang dikelola oleh FDC menjadi semakin lengkap menggambarkan transaksi di industri fintech P2P lending.


FDC ini merupakan wujud implementasi langkah AFPI dalam menjalankan fungsinya sebagai market supervisory untuk berkolaborasi dengan institusi keuangan lainnya dalam memperkuat akses keuangan di masyarakat, khususnya unbanked dan underserved.

Dengan menggunakan FDC, para penyelenggara fintech P2P lending dapat melakukan tindakan preventif, yakni untuk mengetahui sejarah perkreditan calon peminjam dan sudah berapa banyak pinjaman yang masih mereka miliki di berbagai penyelenggara. “Kedua dampak utama tersebut akan sangat membantu menekan kredit macet sehingga dapat menjaga industri fintech P2P lending tetap sehat,” tambah Adrian.

Baca juga: Perlu UU Fintech untuk Mengatur Bisnis Pinjaman Online

Sementara itu, Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI Tumbur Pardede menyampaikan, terkait data yang dapat diakses dari calon peminjam, seluruh anggota AFPI hanya boleh mengakses data peminjam berupa CAMILAN (camera, microfone, dan location).

Selain itu, seluruh anggota AFPI, penyelenggara fintech P2P lending yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), harus tunduk terhadap regulasi dari OJK dan code of conduct yang ditetapkan AFPI, yakni terkait akses data peminjam hanya CAMILAN.

Baca juga: Kenapa Masih Banyak Orang yang Terjerat Pinjaman Online Ilegal?

“Sehingga dapat meminimalisir penyalahgunaan data konsumen. Jadi pastikan bagi masyarakat yang hendak menggunakan jasa fintech P2P lending, data yang diakses fintech P2P lending legal atau terdaftar di OJK hanya CAMILAN," ujar Tumbur.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Aug. 6, 2020, 6:01 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.