Mengenal Apa itu Resesi Ekonomi?

Mengenal Apa itu Resesi Ekonomi?

Sungguh dahsyat dampak dari pandemi Covid-19. Bukan hanya menjadi momok dalam dunia kesehatan, tetapi juga punya dampak serius terhadap perekonomian sebuah negara. Beberapa negara mulai menghantam sendi-sendi ekonomi hingga masuk dalam jurang resesi ekonomi.

Lantas, apa itu resesi ekonomi? Dikutip dari laman The Balance, resesi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi, yang berlangsung lebih dari beberapa bulan. Beberapa para ahli ekonomi ada juga yang mengartikan resesi adalah ketika tingkat pertumbuhan PDB negatif untuk dua kuartal berturut-turut atau lebih.

Baca juga: Mampukah Indonesia Bertahan dari Krisis Ekonomi Akibat Pandemi?

Untuk bisa menentukan sebuah negara masuk dalam kondisi resesi, ada lima indikator ekonomi yang mengalami penurunan. Lima indikator ekonomi itu antara lain produk domestik bruto riil, pendapatan, pekerjaan, manufaktur, dan penjualan ritel. Saat resesi, pertumbuhan ekonomi negara terus penurunan sampai pada titik nol persen, bahkan bisa sampai minus pada kondisi paling buruk.

Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi juga sering dikaitkan dengan menurunnya harga-harga satuan (deflasi) atau inflasi yang ditandai dengan naiknya harga-harga secara tajam.


Sementara National Bureau of Economic Research (NBER) mengartikan, resesi sebagai penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang tersebar di seluruh ekonomi, yang berlangsung lebih dari beberapa bulan. Biasanya terlihat dalam PDB riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan grosir-eceran.

Baca juga: Apa Persiapan Jika Terjadi Ancaman Resesi Ekonomi 2020?

Lalu, apa bedanya dengan depresi ekonomi? Istilah ekonomi ini masih berkaitan dengan resesi ekonomi. Depresi ekonomi banyak diartikan sebagai dampak dai resesi ekonomi yang berlangsung lama. Efek panjangnya jika terjadi penurunan drastis tingkat ekonomi yang biasanya akibat dari hiperinflasi disebut kebangkrutan ekonomi (economy collapse).

The Balance menyebut, resesi ekonomi bisa menjadi depresi ekonomi, jika kondisi resesi itu berlangsung cukup lama. Dalam resesi, ekonomi berkontraksi selama dua kuartal atau lebih. Kondisi depresi ekonomi sebuah negara bisa berlangsung lama hingga beberapa tahun, tergantung pada kebijakan negara untuk mendorong pertumbuhan ekonominya.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
Aug. 3, 2020, 3:33 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.