Tingkat Fraud Aplikasi di Indonesia Turun Akibat Pandemi Covid-19

Tingkat Fraud Aplikasi di Indonesia Turun Akibat Pandemi Covid-19

AppsFlyer menerbitkan laporan fraud tahunan bertajuk Kondisi Mobile Ad Fraud Edisi 2020. Laporan dari perusahaan attribution dunia ini menjelaskan bahwa Indonesia mengalami penurunan fraud secara umum di semua kategori mulai dari 43 persen pada Juli 2019 hingga 19 persen pada Mei 2020.

Dalam laporan fraud terbaru juga merinci, tingkat fraud di Indonesia tercatat sebesar 28 persen pada Maret 2020, dan semakin turun menjadi 19 persen pada Mei 2020. Sedangkan, Singapura mengalami level fraud yang menurun dari 35 persen pada Maret 2020 ke 20 persen pada Mei 2020.

Baca juga: Agar Aman, Nasabah Fintech Butuh Perlindungan Data Pribadi

Untuk kategori, penurunan tingkat fraud ini tidak jauh berbeda dengan negara lain di wilayah Asia Pasifik. Kategori itu meliputi entertainment, casual games, midcore games, dan shopping yang mengalami penurunan tingkat fraud dikarenakan lockdown Covid-19.

Managing Director dan President AppsFlyer Asia Pasifik Ronen Mense menuturkan, dengan lebih banyak orang tinggal dan beraktivitas di rumah, permintaan mobile apps meningkat dan menyebabkan aktivitas user acquisition yang agresif. Hal tersebut mendorong banyak fraudster, walaupun sebagian besar tidak berhasil seperti yang tercermin dari angka penurunan tingkat fraud pada bulan-bulan berikutnya.

Baca juga: Hati-hati, Pembobolan Rekening Lewat Kode OTP Meningkat

Laporan tersebut juga menunjukan, bahwa aplikasi finance menjadi kategori paling terpapar oleh fraud.  Pasar Asia Pasifik berperan untuk kurang lebih dari 60 persen eksposur finansial di seluruh dunia sejumlah US$945 juta, karena meningkatnya investasi dalam aktivitas marketing. Secara global, App Install Ad Fraud telah mengalami penurunan sebesar kurang lebih 30 persen hingga US$1,6 juta dibandingkan dengan H1 2019.


Ada temuan tambahan dari laporan AppsFlyer, di mana perangkat Android mendominasi di seluruh dunia dalam hal pangsa pasar, hal ini membuat Android sebagai platform yang banyak dipilih oleh para pelaku fraud. Tingkat fraud penginstalan aplikasi di Android 4,5 kali lebih tinggi dari iOs.

Hal ini disebabkan karena aplikasi iOS lebih terlindungi dari aktivitas fraudulent, dikarenakan oleh proses pemeriksaan yang lebih ketat. Wilayah Asia Pasifik telah menunjukan persentase lebih tinggi dari serangan flooding, yang merupakan kombinasi dari bots dan tools otomatisasi.

Baca juga: Fintech Data Center Cegah Permainan Debitur Nakal

Model Biaya Per Aksi (CPA) memainkan peran penting dalam proteksi fraud karena aktivitas funnel yang lebih dalam, membuatnya lebih sulit dibajak dibandingkan dengan model Biaya Per Instal (CPI). Hal ini menyebabkan para fraudster mengincar aktivitas di luar CPI untuk mendapatkan keuntungan CPA.

Pada laporan AppsFlyer sebelumnya berjudul Dampak Virus Corona (Covid-19) terhadap Penginstalan Aplikasi dan Anggaran Marketing menunjukkan, Asia Tenggara mengalami peningkatan aktivitas aplikasi ketika banyak negara memberlakukan lockdown ketat.

Baca juga: Antisipasi Kredit Bermasalah, AFPI Hadirkan Fintech Data Center

Laporan ini menunjukkan penurunan revenue total untuk aplikasi shopping di Indonesia sebesar 8,05 persen pada Mei 2020 hingga 4,67 persen pada Juni 2020, karena permintaan untuk berbelanja secara online terlihat menurun setelah lockdown ketat di banyak negara berakhir.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
July 30, 2020, 2:44 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.