Wajah Baru Model Bisnis Logistik Berbasis e-Commerce

Wajah Baru Model Bisnis Logistik Berbasis e-Commerce

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah perilaku bisnis. Model penjualan barang yang sebelumnya didominasi oleh traditional selling atau direct selling, di mana proses transaksi dilakukan secara langsung oleh penjual dan pembeli, kini sudah mulai bergeser ke model e-commerce dengan memanfaatkan berbagai layanan digital seperti online shop, social media, dan marketplace.

Selain berdampak kepada penggunaan digital money dan transaksi keuangan online, menggeliatnya dunia e-commerce juga memberi peluang bagi jasa pengiriman. Sektor logistik akhirnya menjadi tulang punggung aktivitas e-commerce ini. Dapat dikatakan antara bisnis jasa logistik dan e-commerce merupakan bentuk kerja sama simbiosis mutualisme yang sama-sama menguntungkan.

Baca juga: Kelas Menengah Membentuk Tren Belanja Online di Indonesia

Selama masa pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini telah melemahkan sendi-sendi perekonomian di berbagai sektor, penyebabnya terutama karena diberlakukan pembatasan aktivitas fisik. Begitu pula pada negara-negara mitra dagang Indonesia dengan adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun, pembatasan ruang gerak itu justru memunculkan pertumbuhan di sektor e-commerce. Berdasarkan data RedSeer, pengguna layanan digital selama pandemi Covid-19 justru didominasi oleh e-commerce yang mengalami peningkatan sebesar 69 persen.


Di masa new normal ternyata tidak menghentikan pergerakan barang. Kebijakan pemerintah yang menetapkan logistik masuk dalam sektor bisnis yang tetap diizinkan beroperasi selama pandemi menjadi pendorongnya. Dunia logistik tetap berpeluang menatap model bisnis baru berbasis e-commerce ini.

Salah satunya adalah metode last mile delivery. Provider logistik harus bersinergi dengan pelaku-pelaku e-commerce business to consumer (B2C) untuk menyediakan layanan penyimpanan dan pengiriman langsung ke tangan konsumen. Jika pada awalnya pengiriman barang hanya didominasi oleh jasa logistik kurir, saat ini jasa third party logistics (3PL) bisa menjadi alternatif solusi pengiriman.

Baca juga: Bagaimana Aplikasi Digital Bisa Mengubah Wajah Bisnis?

Jasa third party logistics (3PL) berpeluang besar untuk memberikan solusi yang lebih baik dengan mengembangkan konektifitas platform manajemen pergudangan dan transportasi yang sudah terintegrasi B2B dengan platform rekanan penyedia e-commerce B2C.

Hal lain yang menjadi senjata dari model bisnis ini adalah adanya layanan bayar di tempat atau cash on delivery (COD). Perilaku konsumen berbelanja online belumlah sama untuk setiap individu. Ada sebagian konsumen yang masih khawatir dengan kualitas barang dan keamanan barang yang di-order sehingga mereka menunda pembayaran sampai barang diterima.


Berdasarkan publikasi Statistik E-Commerce 2019 Badan Pusat Statistik (BPS), metode pembayaran yang paling banyak disediakan pada proses penjualan online adalah COD, sebanyak 83,73 persen. Hal ini menunjukkan COD menjadi layanan yang harus mendapatkan perhatian dan manajemen tersendiri agar model bisnis ini bisa powerful.

Baca juga: Cegah Penyebaran Covid-19, E-Commerce Beri Solusi Belanja dari Rumah

Managing Director YCH Indonesia Lukas Mardhi menyatakan, kemampuan perusahaan-perusahaan logistik Indonesia menjalankan bisnis sudah saatnya berbasis IT dalam setiap bagiannya termasuk layanan kepada pelanggan.

It is not the strongest nor the most intelligent of the species that survive, but the one with most adaptable to change who will win. Kalimat ini yang selalu mengingatkan kami bahwa untuk menjadi yang terdepan dalam melayani pelanggan, kami harus selalu beradaptasi dengan kondisi dan mempersiapkan diri lebih awal, inilah yang membuat YCH Indonesia lebih baik,” ujar Lukas.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
July 24, 2020, 1:25 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.