Tangani Covid-19, Ini Skema Burden Sharing Pemerintah dan BI

Tangani Covid-19, Ini Skema Burden Sharing Pemerintah dan BI

Penanganan dampak pandemi Covid-19 yang dirasakan oleh seluruh negara di dunia membutuhkan kerja sama dengan banyak pihak. Bukan hanya pemerintah, peran bank sentral atau Bank Indonesia (BI) juga sangat penting dalam membantu menangani dampak dari pandemi ini.

Staf Khusus Kementerian Keuangan RI Masyita Crystallin mengatakan, pemerintah sudah bekerja sama dengan bank sentral sudah berbagi beban (burden sharing) guna menangani pandemi Covid-19 ini. Sebenarnya, kerja sama seperti ini juga dilakukan di seluruh negara di mana pendanaan yang diperlukan pemerintah akan dibantu oleh bank sentral dengan biaya yang rendah.

Baca juga: Mampukah Indonesia Bertahan dari Krisis Ekonomi Akibat Pandemi?

“Kita harus memiliki beberapa norma dalam mengatasi masalah ini. Untuk itu, yang kami lakukan bukanlah printing money atau helicopter money. Skema yang kami lakukan tetap sesuai pasar dan tetap jadi instrumen moneter. Ketika Bank Indonesia perlu, instrumen itu bisa langsung ditarik,” katanya dalam Asian Insights Conference 2020 yang diselenggarakan Bank DBS Indonesia.

Salah satunya adalah dengan penerbitan sukuk global dengan yield yang baik beberapa waktu lalu. Pemerintah menerbitkan global bond sebesar USD4,3 miliar dalam tiga bentuk surat berharga, yaitu SBN seri RI1030, RI1050, dan RI0470. Langkah ini dilakukan untuk menghindari kontraksi ekonomi dan keterbatasan APBN.

Baca juga: Apa Perbedaan Krisis Akibat Pandemi 2020 dengan Krisis 1998?

Pemerintah juga sudah melakukan langkah antisipasi untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini. Beberapa insentif sudah diberikan kepada para pelaku usaha agar ekonomi tetap bisa berjalan. Dengan insentif ini, pemerintah berharap agar kondisi masyarakat dan pelaku usaha siap untuk bergerak lagi.


Pasalnya, kalau sampai ada yang tidak bergerak atau mati, maka sektor usaha akan lebih sulit untuk digerakkan kembali. Dampak inilah yang harus dikurangi agar tidak terjadi dan terlalu dirasakan oleh masyarakat.

“Kami sudah melakukan persiapan yang agak panjang. Ini semua tergantung dari kebijakan pandemi itu sendiri. Dampaknya juga tidak bisa terduga panjang dan lamanya. Kami sudah siap dengan kebijakan untuk tiga tahun ke depan,” jelas Masyita.

Bukan hanya paket stimulus ekonomi, pemerintah juga fokus dalam meningkatkan investasi demi menahan laju perlambatan ekonomi khususnya di tengah pandemi Covid-19. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sudah punya strategi di kuartal pertama di mana harus mendorong investasi dari dalam negeri dan kita harus jemput bola.

Baca juga : Apa Persiapan Jika Terjadi Ancaman Resesi Ekonomi 2020?

Kepala Badan Koordinasi penanaman Modal Bahlil Lahadalia mengungkapkan, dalam rangka realisasi investasi, BKPM juga ingin untuk realisasi investasi yang berkualitas. Salah satu tolak ukur investasi yang berkualitas itu adalah penyebaran investasi antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa yang kini hampir berimbang sekarang.

Saat ini, komposisi Pulau Jawa kurang lebih sekitar 51,4 persen, sementara luar Pulau Jawa sekitar 48,6 persen. “Kami tidak hanya melayani investasi besar tetapi juga investasi kecil di seluruh daerah. Saat ini kami fokus pada realisasi investasi yang menghasilkan produk substitusi impor yang menghasilkan nilai tambah ekonomi,” terang Bahlil.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
July 22, 2020, 12:18 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.