Ridwan Kamil: Ada 7 Peluang Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19

Ridwan Kamil: Ada 7 Peluang Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 memberi kekhawatiran banyak masyarakat. Dampaknya mulai sangat terasa, mulai dari pembatasan aktivitas perdagangan, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga penurunan omzet para pelaku usaha.

Di sisi perekonomian negara pun, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai mengalami tekanan. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi mencapai angka di atas 5 persen pada awal tahun 2020 menjadi tantangan cukup besar untuk Indonesia.

Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) pada awal April lalu menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 adalah 0,5 persen dari awalnya pada Oktober 2019 diperkirakan mencapai 5,1 persen.

Baca juga: Mampukah Indonesia Bertahan dari Krisis Ekonomi Akibat Pandemi?

Kementerian Keuangan menyebut perekonomian RI secara keseluruhan akan sangat ditentukan oleh pemulihan di kuartal ketiga dan keempat. Hingga saat ini pemerintah masih akan menggunakan skenario pertumbuhan ekonomi 2020 di level minus 0,4 persen hingga 2,3 persen.

Kondisi terungkap dalam acara Asian Insights Conference 2020 yang diselenggarakan oleh Bank DBS Indonesia. Hadir dalam acara tersebut, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengakui, pandemi Covid-19 tidak hanya kondisi darurat kesehatan tetapi juga darurat ekonomi. Bahkan, ada beberapa negara yang telah memasuki kondisi darurat sosial serta darurat politik.

“Kami optimis melalui langkah-langkah pemulihan maka ekonomi Jawa Barat akan tumbuh 2-3 persen di bulan Desember 2010. kami juga optimis menjadi provinsi pertama di Indonesia yang move on dari pandemi ini,” ucap pria yang akrab disapa Kang Emil ini.


Di masa pandemi ini, justru Emil menilai ada peluang di bidang ekonomi yang bisa dikembangkan. Setidaknya ada tujuh peluang yang antara lain:

1. Investasi yang berpindah dari Tiongkok ke Segitiga Rebana.

2. Pengembangan swasembada dan teknologi.

3. Pertumbuhan industri kesehatan dengan produksi manufaktur alat kesehatan sendiri.

4. Penerapan industri 4.0 di era new normal.

Baca juga: Apa Perbedaan Krisis Akibat Pandemi 2020 dengan Krisis 1998?

5. Pengembangan digital village dengan penerapan teknologi bagi para penduduk desa.

6. Penerapan sustainable ekonomi dan industri.

7. Pengembangan pariwisata lokal.


Resesi ekonomi yang dialami Singapura menjadi warning bagi Indonesia. Meskipun Indonesia punya sejarah krisis ekonomi pada 1998, namun tetap saja harus waspada dampak pandemi Covid-19 terhadap perlambatan ekonomi. Banyak Pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah Indonesia dapat bertahan seperti saat krisis tahun 1998?

Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia Paulus Sutisna mengatakan, kondisi Indonesia saat ini lebih kuat dibanding 20 tahun lalu dari berbagai indikator ekonomi. indikator itu seperti Produk Domestik Bruto (PDB), cadangan devisa, utang luar negeri, sektor perbankan yang lebih kuat dan pasar keuangan yang lebih mendalam.

Baca juga: Apa Persiapan Jika Terjadi Ancaman Resesi Ekonomi 2020?

“Koordinasi antara lembaga pemerintahan pun dinilai sangat baik sehingga memungkinkan lembaga perbankan dapat melayani nasabah dengan baik di tengah pandemi,” kata  Paulus dalam dalam acara DBS Asian Insights Conference 2020.

Target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi mencapai angka di atas 5 persen pada awal tahun 2020 menjadi tantangan cukup besar untuk Indonesia. Sementara itu, International Monetary Fund (IMF) pada awal April lalu menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 adalah 0,5 persen dari awalnya pada Oktober 2019 diperkirakan mencapai 5,1 persen.

Kementerian Keuangan menyebut perekonomian RI secara keseluruhan akan sangat ditentukan oleh pemulihan di kuartal ketiga dan keempat. Hingga saat ini, pemerintah masih akan menggunakan skenario pertumbuhan ekonomi 2020 di level minus 0,4 persen hingga 2,3 persen.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
July 22, 2020, 9:50 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.