Lama Tidak Terdengar, Wacana Redenominasi Rupiah Kembali Muncul

Lama Tidak Terdengar, Wacana Redenominasi Rupiah Kembali Muncul

Lama tidak terdengar, rencana redenominasi rupiah kembali muncul. Rencana itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 77/PMK.01/2020 terkait rencana strategis Kementerian Keuangan 2020-2024. Untuk mewujudkan rencana redenominasi rupiah, pemerintah akan membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Redenominasi Rupiah.

Rencana redenominasi rupiah bukan kali pertama muncul. Pada akhir 2010, Bank Indonesia (BI) sempat mewacanakan rencana ini. Bahkan kala itu, BI dan pemerintah telah mengusulkan RUU tentang Perubahan Harga Rupiah. Usulan RUU tersebut telah disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo kepada unsur Pimpinan DPR dan Badan Legislasi (Baleg) dan telah menjadi prioritas Prolegnas tahun 2013.

Baca juga : Survei Konsumen BI Juni 2020: Indeks Keyakinan Konsumen Membaik

Rencana redenominasi rupiah sempat hilang dari pemberitaan dan wacana tersebut kembali muncul saat Bank Indonesia dipimpin oleh Agus DW Martowardojo. Di bawah kepemimpinannya, BI kembali mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Redenominasi Rupiah pada 2016 untuk dibahas di DPR pada prolegnas 2017. Kembali lagi, RUU tersebut belum terpilih karena prolegnas 2017 fokus pada undang-undang terkait penerimaan negara.

Di pertengahan 2020 ini, redenominasi rupiah kembali diwacanakan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam Peraturan Menteri Keuangan. Salah satu alasannya adalah penyederhanaan sistem transaksi, akuntansi, dan pelaporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena banyaknya jumlah digit dalam rupiah.


"RUU tentang Perubahan Harga Rupiah (RUU Redenominasi). Urgensi pembentukan: Menimbulkan efisiensi perekonomian berupa percepatan waktu transaksi, berkurangnya risiko human error, dan efisiensi pencantuman harga barang/jasa karena sederhananya jumlah digit Rupiah," tulis isi PMK tersebut.

Perlu dipahami bahwa redenominasi rupiah berbeda dengan pemotongan nilai uang (sanering). Redenominasi rupiah hanya akan menghilangkan beberapa angka nol di belakang. Biasanya tiga angka nol di belakang akan dihilangkan. Jadi, redenominasi adalah penyederhanaan nilai mata uang tanpa mengubah nilai tukar uang tersebut.

Baca juga : Punya Uang Rusak, Jangan Dibuang, Ini Syaratnya Supaya Bisa Ditukar

Misalnya, nilai Rp1.000 saat ini jika mengalami redenominasi penghilangan tiga angka nol akan menjadi Rp1. Namun, nilainya tetap sama. Dengan kata lain, jika sekarang Rp1.000 bisa untuk membeli permen maka ketika dipotong menjadi Rp1 tetap bisa membeli permen yang sama.

Sementara itu, Bank Indonesia menyatakan rencana redenominasi rupiah ini masih dalam tahap kajian beberapa lembaga terkait. Artinya, penerapannya tidak dalam jangka waktu dekat ini. Pasalnya, redenominasi rupiah membutuhkan komitmen nasional dan persiapan yang cukup panjang.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
July 7, 2020, 11:18 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.