Mencegah Debitur Nakal Lewat Teknologi Digital Manajemen Risiko

Mencegah Debitur Nakal Lewat Teknologi Digital Manajemen Risiko

Harus diakui bahwa di Indonesia masih banyak masyarakat yang masih belum tersentuh layanan finansial (unbanked). Utamanya adalah masyarakat yang berada di pedesaan. Ini bisa menjadi peluang bagi bank dan lembaga jasa keuangan lainnya untuk memberi layanan perbankan dan kredit. Namun dibalik potensi itu, ada masalah kurangnya catatan atau riwayat bank.

Di Indonesia, ada sekitar 92 juta dari 181 juta orang Indonesia yang memiliki kualifikasi untuk mendapatkan layanan bank dan kredit. Kendalanya, mereka masih belum atau tidak bisa memiliki akses ke produk keuangan (unbanked) karena kurangnya catatan atau riwayat bank atau memiliki pekerjaan penuh waktu tanpa bukti gaji seperti para pengemudi Ojol. Hal ini tidak hanya terbatas pada individu, ada jutaan perusahaan kecil dan menengah juga menghadapi kesenjangan pendanaan yang besar.

Baca juga : Fintech Data Center Mencegah Permainan Debitur Nakal

Riwayat inilah yang masih dianggap sebagai potensi terjadinya penipuan atau fraud dalam akses layanan perbankan dan jasa keuangan lainnya. Memang saat ini Bank Indonesia telah memanfaatkan Biro Statistik Lokal, perusahaan Telekomunikasi dan penyelenggara e-commerce untuk data dalam melakukan pemeriksaan kredit dan penipuan. Namun, data masih terfragmentasi dan masih belum dapat diandalkan.

Hal ini mengakibatkan banyak terdapat pinjaman bermasalah, tingkat persetujuan pinjaman yang rendah dan kasus penipuan yang marak. Kemitraan antar-lembaga akan membantu perbankan untuk memanfaatkan jejak digital ponsel dalam memproses aplikasi perbankan dan kredit yang diajukan konsumen, terutama menyediakan akses keuangan bagi para konsumen di Indonesia yang selama ini belum tersentuh layanan bank dan kredit (unbanked) termasuk para pekerja paruh waktu.

Baca juga : Peluang dan Tantangan Perbankan di Era Digital Banking 4.0

"Kami sangat gembira dengan kemitraan antara GBG dan CredoLab ini. Dengan menggabungkan metadata pada jejak digital konsumen dan teknologi perilaku ke dalam platform digital GBG Instinct, kami melihat peningkatan dalam perlindungan kredit dan risiko penipuan hingga 40 persen,” kata Managing Director GBG APAC June Lee.


Dia menjelaskan, penggabungan antara Penilaian Kredit Ponsel dan Teknologi Manajemen Fraud Digital dalam satu layanan ini membantu bank-bank digital dan pemberi pinjaman, dalam menyasar populasi masih belum tersentuh layanan finansial (unbanked) secara penuh dan lebih baik.

Dengan GBG Instinct, bank, lembaga pemberi pinjaman dan dompet ponsel dapat memanfaatkan data yang ada di layanan cloud CredoLab di Jakarta. Proses ini hanya memerlukan waktu beberapa detik, untuk dapat menganalisa data perilaku ponsel pengguna dan menghitung skor risiko dari setiap individu yang akan didaftarkan.

Baca juga : Antisipasi Kredit Bermasalah, AFPI Hadirkan Fntech Data Center

“Hasil dari kemitraan ini akan meningkatkan kemampuan prediksi Kartu Skor Risiko hingga 39,9 persen, penurunan biaya risiko hingga 21,9 persen, dan peningkatan tingkat persetujuan kredit hingga 32 persen,” terang June Lee.

Sementara CEO dan Co-Founder CredoLab Peter Barcak menuturkan, GBG akan menunjukkan perilaku mencurigakan dari calon nasabah yang “tidak dapat atau tidak mampu membayar”, dan Skor Risiko perilaku CredoLab, akan memperkecil kemungkinan dan potensi calon nasabah nakal yang cenderung tidak memiliki minat untuk membayar cicilan kredit.

Baca juga : Sinergi Fintech dan Perbankan untuk Masa Depan Industri Finansial

Kemitraan GBG dan CredoLab ini akan memungkinkan semua bank di Indonesia baik konvensional dan digital serta pemberi pinjaman digital untuk dapat mengakses populasi masyarakat yang belum tersentuh layanan bank dan kredit (unbanked), memberi persetujuan pada calon nasabah berkualitas dengan data yang diperlukan untuk mempercepat orientasi, mendeteksi fraud, dan mengurangi biaya operasional.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
June 18, 2020, 11:10 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.