Indonesia Menuju New Normal, McKinsey: Ada Perubahan Pola Belanja

Indonesia Menuju New Normal, McKinsey: Ada Perubahan Pola Belanja

Sejak pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia, praktis segala aktivitas masyarakat mengalami perubahan. Bukan hanya aktivitas bekerja, tetapi juga aktivitas perbelanjaan. Sejak pandemi, pola belanja masyarakat berubah drastis dari yang awalnya mengunjungi toko fisik (offline) beralih ke sistem elektronik (online).

Bukan hanya itu, masyarakat pun mulai lebih teliti dalam berbelanja. Masyarakat cenderung selektif dalam memilih produk belanja karena adanya keterbatasan sumber pemasukan. Hal itu terungkap dari hasil survei McKinsey & Company berjudul Implications of Covid-19 for Retail and Consumer Goods in Indonesia yang diadakan pada 25-26 April 2020.

Baca juga : Ini Kebijakan Bank Indonesia dalam Memitigasi Dampak Covid-19

Survei yang melibatkan sekitar 711 responden ini menunjukkan, sebanyak 36 persen responden akan lebih banyak menggunakan aplikasi online untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Kemudian 40 persen responden lainnya akan menggunakan platform e-dagang selama pandemi Covid-19. Hasil lainnya, lebih dari 40 persen responden akan mengurangi intensitas belanja secara fisik seperti berbelanja di pasar tradisional, toko kelontong, atau ritel (convenience store).

Partner and Co-Leader of Consumer Packaged Goods and Retail practices in Southeast Asia McKinsey Ali Potia menjelaskan, situasi itu bisa diambil oleh para pengusaha untuk mengkolaborasi pola belanja masyarakat sebagai solusi belanja, yaitu perpaduan belanja online dan toko online.

Baca juga : Harga Properti Residensial Triwulan I 2020 Melambat

“Buktinya, para pemain retail besar akan menerapkan dan menguatkan sistem omnichannel. Untuk ritel kecil mau tidak mau harus bergabung dalam ekosistem digital,” ujarnya saat konferensi pers pemaparan hasil survei McKinsey & Company.


Selain itu, konsumen akan memiliki lebih banyak pertimbangan saat berbelanja. Ada sejumlah nilai produk yang menjadi pertimbangan, seperti tingkat kesegaran, kesehatan, dan lokalitasnya. Hal itu disebabkan ada kekhawatiran masyarakat terhadap kekuatan pendapatannya.

Hasil survei McKinsey & Company juga menyebutkan sebanyak 54 persen konsumen responden merasa khawatir sumber pemasukan keluarganya yang bisa berakibat tidak mampu membeli kebutuhan harian mereka. Sementara 40 persen responden lainnya berencana akan membatalkan pembelian Beberapa jenis produk.

Baca juga : Aplikasi Digital Dorong Bisnis UMKM Naik Kelas

Optimisme konsumen Indonesia tentang pemulihan ekonomi yang cepat mulai menurun dan dampak krisis terhadap mata pencaharian dan pengeluaran menjadi lebih jelas. Kurang dari setengah konsumen Indonesia optimis bahwa perekonomian akan pulih dalam 2-3 bulan. Meskipun niat konsumen untuk membelanjakan barang pilihan tetap rendah, mereka berharap untuk berbelanja barang secara online.

Selama krisis, lebih dari sepertiga konsumen berbelanja di toko atau situs web baru, dengan mayoritas berniat untuk melanjutkan. Orang Indonesia telah mengambil kegiatan digital baru seperti pembelajaran jarak jauh dan konferensi video sambil mengintensifkan penggunaan pengiriman bahan makanan dan restoran serta bermain game, dengan lebih dari 65 persen berniat untuk melanjutkan pasca Covid-19.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
May 29, 2020, 9:37 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.