Harga Properti Residensial Triwulan I 2020 Melambat

Harga Properti Residensial Triwulan I 2020 Melambat

Hasil Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia (BI) mengindikasikan kenaikan harga properti residensial di pasar primer yang melambat. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I 2020 sebesar 1,68 persen year on year (yoy), lebih rendah dibandingkan 1,77 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perlambatan IHPR diprakirakan akan berlanjut pada triwulan II 2020 dengan tumbuh sebesar 1,56 persen (yoy).

Perlambatan IHPR itu terjadi pada tipe rumah menengah dan besar yang tercatat mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 1,36 persen (yoy) dan 0,86 persen (yoy), melambat dari 1,44 persen dan 1,03 persen. Berdasarkan wilayah, pertumbuhan IHPR secara tahunan tertinggi terjadi di kota Medan (7,14 persen) dan kota Makassar (2,43 persen).

Perlambatan pertumbuhan IHPR secara tahunan sejalan dengan melambatnya kenaikan biaya tempat tinggal yang dikeluarkan oleh rumah tangga pada triwulan I 2020. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga konsumen (IHK) sub kelompok pemeliharaan, perbaikan, dan keamanan tempat tinggal atau perumahan.

Baca juga : Ini Kebijakan Bank Indonesia dalam Memitigasi Dampak Covid-19

Penjualan properti residensial pada triwulan I 2020 menurun signifikan. Hasil survei harga properti residensial mengindikasikan bahwa penjualan properti residensial secara tahunan mengalami kontraksi yang cukup dalam sebesar -43,19 persen (yoy), jauh lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tumbuh terbatas sebesar 1,19 persen (yoy).

Penurunan penjualan properti residensial tersebut terjadi pada seluruh tipe rumah, baik tipe rumah besar -41,01 persen quarter to quarter (qtq), rumah menengah sebesar -34,39 persen (qtq), dan rumah kecil sebesar -26,09 persen (qtq).

Tingkat suku bunga KPR yang dirasa masih cukup tinggi menjadi faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan penjualan properti residensial masih terhambat. Berdasarkan data laporan bulanan bank umum per Maret 2020, secara rata-rata tingkat suku bunga KPR pada triwulan I 2020 sebesr 8,92 persen.


Faktor lain yang menjadi penghambat adalah kondisi bencana nasional, yaitu pandemi Covid-19, perizinan atau birokrasi, kenaikan harga bahan bangunan, dan proporsi uang muka yang tinggi dalam pengejuan KPR di perbankan.

Hasil survei Bank Indonesia ini juga memperkirakan harga properti residensial pada triwulan II 2020 semakin terbatas. Hal ini terindikasi dari perkiraan pertumbuhan IHPR triwulan II 2020 sebesar 1,56 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pada triwulan I 2020 sebesar 1,68 persen (yoy).

Baca juga : Kebijakan Countercyclical untuk Menjaga Perekonomian Nasional

Sementara secara triwulanan, pertumbuhan harga properti residensial pada triwulan II 2020 juga diperkirakan melambat dari triwulan sebelumnya yang terindikasi dari IHPR yang tumbuh sebesar 0,29 persen (qtq), lebih rendah dari 0,46 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa dana internal perusahaan masih memiliki porsi terbesar dalam komposisi sumber pembiayaan utama proyek perumahan. Hal tersebut tercermin dari penggunaan dana internal developer yang dominan hingga mencapai 61,63 persen.

Sementara itu, mayoritas konsumen masih mengandalkan pembiayaan perbankan dalam membeli properti residensial. Persentase jumlah konsumen yang menggunakan fasilitas KPR dalam pembelian properti residensial adalah sebesar 74,73 persen.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
May 19, 2020, 4:16 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.