Hati-hati, Pembobolan Rekening Lewat Kode OTP Meningkat

Hati-hati, Pembobolan Rekening Lewat Kode OTP Meningkat

Masa pandemi Covid-19 dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat segala aktivitas di luar rumah menjadi sangat terbatas. Bahkan untuk urusan perbankan pun, masyarakat diminta untuk memanfaatkan transaksi secara digital seperti melalui mobile banking, internet banking atau SMS banking.

Namun selalu saja ada celah kejahatan di tengah kenaikan transkasi digital perbankan ini, bahkan di masa pandemi ini. Sejak penerapan PSBB dan work from home (WFH), percobaan pembobolan rekening nasabah lewat pengalihan kode one time password (OTP) mengalami peningkatan.

Baca juga : Ini Modus Pembobolan Rekening Lewat Kode-OTP

Direktur Kelembagan Bank Mandiri Donsuwan Simatupang mengingatkan agar setiap nasabah berhati-hati dalam melakukan trensaksi digital, terlebih bila memakai kode OTP karena adanya percobaan criminal fraud. “Kami ingatkan agar tidak membagikan password dan kode OTP pada siapa pun termasuk karyawan atau petugas bank sekali pun,” katanya dalam paparan outlook ekonomi secara virtual.

Pencurian secara digital juga mengincar uang elektronik Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), seperti Gopay, Ovo, LinkAja atau Dana. Salah satu modusnya dengan menginformasikan pengguna memenangkan sejumla hadiah seperti uang tunai, mobil, motor, smartphone atau bentuk hadiah lainnya.

Baca juga : Kenapa Kode OTP Harus Dirahasiakan?

Para penjahat ini memanfaatkan sisi psikologis nasabah, di mana setiap orang akan bergembira bila mendapatkan hadian. Namun, nasabah harus memastikan kebenaran informasi tersebut ke customer service bank atau IKNB mengenai informasi tersebut. Ingat, jangan beritahukan OTP di layar ponsel Anda ke pihak mana pun.


Adanya pandemi Covid-19 ini, perbankan memang didorong mengurangi aktivitas interaksi secara langsung. Semua layanan perbankan diarahkan secara digital. Dengan begitu, masyarakat tetap dapat memanfaatkan layanan perbankan tanpa harus ke luar rumah.

Dalam outlook ekonomi tersebut dipaparkan per Maret 2020, transaksi menggunakan aplikasi mobile banking Mandiri (Mandiri Online) meningkat menjadi 2 juta transaksi per hari. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 1,2 juta transaksi.

Baca juga : 11 Tips Menghindari Kejahatan Digital Banking

Sementara Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hery Gunardi menyebutkan secara nominal rata-rata transaksi harian Mandiri Online juga mengalami peningkatan menjadi Rp3 triliun per Maret 2020 dibandingkan periode Maret 2019 yang mencapai Rp1,8 triliun.

"Harapan kami, frekuensi harian ini bisa meningkat terutama setelah kami menaikkan limit transfer melalui Mandiri Online untuk sesama rekening Mandiri dan antar bank menjadi total Rp400 juta, dari sebelumnya Rp200 juta,” ungkapnya.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
May 12, 2020, 3:29 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.