Kuartal I 2020, Pendapatan Operasional PermataBank Tumbuh 15,5 Persen

Kuartal I 2020, Pendapatan Operasional PermataBank Tumbuh 15,5 Persen

PT Bank Permata Tbk (PermataBank) berhasil mempertahankan pertumbuhan aset dan pendapatan operasional di tengah situasi pandemi Covid-19. Pada kuartal I 2020, PermataBank mampu membukukan pendapatan operasional sebesar Rp2,1 trilyun, atau tumbuh sebesar 15,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan bunga bersih sebesar Rp1,6 trilyun bertumbuh sebesar 15,5 persen year on year (yoy) sejalan dengan pertumbuhan kredit yang diberikan sebesar 5,7 persen yoy. Pertumbuhan kredit ini terutama dikontribusikan oleh segmen Wholesale Banking.

Pendapatan berbasis biaya juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sebesar 15,8 persen yoy, terutama dikontribusikan oleh keuntungan dari transaksi perdagangan valuta asing (valas) dan pertumbuhan pendapatan berbasis biaya dari komisi, provisi dan administrasi terkait transaksi perbankan.

Baca juga : Solusi Transaksi dari Rumah dengan Permata Tabungan iB Bebas Syariah

Beban operasional pun tetap terjaga dan hanya mengalami peningkatan yang marjinal sebesar 3,8 persen yoy, sehingga Laba Operasional Sebelum Cadangan Kerugian Penurunan Nilai mengalami peningkatan sebesar 37,4 persen yoy menjadi Rp865 milyar. Rasio efisiensi Cost to Income (CIR) membaik secara substansial menjadi sebesar 58,6 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 65,1 persen.

Peningkatan rasio BOPO menjadi 94 persen dari 88 persen yang disebabkan karena peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan, sejalan dengan penerapan PSAK 71 yang efektif berlaku di 1 Januari 2020. 


Pandemi Covid-19 telah menyebabkan volatilitas beberapa indikator perekonomian makro, sehingga berdampak pada peningkatan rasio kemungkinan terjadi gagal bayar di masa yang akan datang dan peningkatan cadangan kerugian secara umum.

Selain itu dengan adanya kebijakan Pemerintah untuk menurunkan tarif Pajak Penghasilan Badan dari 25 persen menjadi 22 persen efektif sejak tanggal 31 Maret 2020, maka Bank melakukan penyesuaian penurunan aset pajak tangguhan yang berakibat pada peningkatan beban pajak tangguhan sebesar Rp216 milyar.

Baca juga : Proteksi Diri dengan E-Bancassurance PermataMobile-X

Dengan mengecualikan dampak Covid-19 terhadap peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai dan dampak penurunan tarif pajak penghasilan badan terhadap penurunan nilai aset pajak tangguhan, laba bersih Bank setelah normalisasi mengalami sedikit peningkatan dari Rp377 milyar menjadi Rp378 milyar.

Posisi likuiditas Bank tetap kuat dengan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 11,4 persen yoy yang terutama dikontribusikan dari dana murah (giro dan tabungan) sebesar 25,8 persen yoy. Rasio dana murah juga mengalami perbaikan yang signifikan dari tahun lalu sebesar 47,4 persen menjadi 53,5 persen.


Secara umum rasio likuiditas Loan-to-Deposit (LDR) Bank tetap terjaga di kisaran 79,9 persen yang menunjukkan pengelolaan penerimaan dan penyaluran dana masyarakan secara optimum. Struktur pendanaan yang baik juga berdampak positif pada marjin bunga (Net Interest Margin atau NIM) yang mengalami peningkatan menjadi 4,6 persen dari sebelumnya 4 persen di periode yang sama tahun lalu, berlawanan dengan kondisi industri perbankan secara umum yang mengalami penurunan NIM.

Pengelolaan risiko kredit tetap berjalan dengan baik, terlihat dari Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross yang mengalami penurunan ke level 3,2 persen dibandingkan dengan Maret 2019 pada 3,8 persen. NPL coverage ratio terus terjaga baik sebesar 152 persen pada Maret 2020, meningkat dibandingkan posisi Desember 2019 yang sebesar 133 persen.

Baca juga : Daftar Bank dan Leasing yang Memberi Keringanan Kredit

Common Equity Tier 1 (CET-1) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) terjaga kuat pada di Maret 2020 sebesar 18,4 persen dan 19,6 persen, dibanding 18,3 persen dan 19,9 persen pada periode yang sama tahun lalu, jauh lebih tinggi dari ketentuan regulasi mengenai modal minimum sebesar 12,5 persen. Rasio permodalan tetap terjaga kuat setelah memperhitungkan dampak negatif dari penerapan pertama PSAK 71 mengenai penilaian cadangan kerugian instrumen keuangan pada tanggal 1 Januari 2020.

Ridha DM Wirakusumah, Direktur Utama PermataBank mengatakan, Kemampuan PermataBank dalam mencetak pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga terutama dana murah dan pendapatan operasional di tengah kondisi perekonomian yang sulit ini menunjukkan bahwa bank berhasil mengelola operasional bisnis serta kebutuhan likuiditasnya dengan baik.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
May 11, 2020, 4 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.