Fintech Data Center Cegah Permainan Debitur Nakal

Fintech Data Center Cegah Permainan Debitur Nakal

Masalah terbesar dari penyelenggara fintech peer-to-peer (P2P) lending adalah menekan tingkat kredit macet dan bermasalah. Hal ini bisa muncul karena masih adanya sisi longgar dari verifikasi calon peminjam (borrower) dengan reputasi buruk.

Fintech Data Center (FDC) dari Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) bisa menjadi sarana untuk menghindari para calon peminjam yang memiliki catatan buruk. Pasalnya, FDC juga bisa diintegrasikan ke data milik perbankan atau bahkan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) milik Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca juga : Antisipasi Kredit Bermasalah, AFPI Hadirkan Fintech Data Center

Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI Tumbur Pardede menyatakan, FDC merupakan wujud implementasi langkah AFPI dalam menjalankan fungsinya sebagai market supervisory untuk berkolaborasi dengan institusi keuangan lainnya dalam memperkuat akses keuangan di masyarakat, khususnya unbanked dan undeserved.

“Dalam pengembangannya, FDC juga bisa diintegrasikan ke data milik perbankan atau bahkan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) milik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) demi meningkatkan kapasitas bersama dalam menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat,” ucapnya.


Sebagai Chief Executive Officer (CEO) TunaiKita, Tumbur menerangkan FDC dapat menghindari ancaman debitur dengan catatan perilaku meminjam buruk dan identifikasi penipuan. Selain itu sistem ini sangat membantu sebagai parameter penting dalam menentukan kelayakan pelanggan yakni dapat mendeteksi dan mencegah calon nasabah melakukan peminjaman berlebih di banyak platform fintech P2P lending dalam waktu bersamaan.

Sementara itu Chief Information Officer Investree Dicky Widjaja berharap, agar konektivitas ini terus berlanjut untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada para stakeholders. Dengan adanya integrasi FDC ini, proses mitigasi dalam menyeleksi borrower secara menyeluruh sehingga dapat meminimalisir potensi penipuan (fraud) serta memberi perlindungan kepada para lender Investree.

Baca juga : Sinergi Fintech dan Perbankan untuk Masa Depan Industri Finansial

FDC ini mendukung kebutuhan platform selama ini untuk melakukan verifikasi data nasabah sehingga proses penyaluran pinjaman dapat lebih akurat dan tepat. "Dengan adanya data FDC maka kualitas dari para peminjam yang disetujui Danamas menjadi lebih baik. FDC berdampak pada tingkat keberhasilan pembayaran pinjaman,” kata IT Project Manager Danamas, Markus Lesmana

CEO Maucash Rina Apriani menuturkan, dengan adanya FDC platform mendapatkan tambahan informasi terkait customer sehingga menjadi lebih lengkap dan keputusan kredit yang diambil menjadi lebih berimbang. Hal senada disampaikan Head of Engineering JULO, Hans Sebastian, pengembangan FDC selama ini sangat dibantu dengan keterbukaan tim AFPI dalam perencanaan dan pembahasan technical detail yang melibatkan semua platform dan seluruh masukan juga didengarkan dan diterapkan.

Baca juga : Pinjaman Online P2P Lending Harus Transparan dan Ramah Konsumen

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga akhir Februari 2020, penyaluran pinjaman fintech P2P lending senilai Rp95,39 triliun atau meningkat 225,58 persen dari tahun lalu (yoy). Di sisi lender, sudah ada 630.003 entitas atau naik 156,83 persen (yoy) dan jumlah borrower naik 267,17 persen (yoy) mencapai 22.327.795 entitas. Penyelenggara fintech P2P lending yang terdaftar di OJK per Februari 2020 tercatat 161 perusahaan dengan 25 di antaranya status berizin.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
May 5, 2020, 3:54 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.