Bank Indonesia Tetap Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,5 Persen

Bank Indonesia Tetap Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,5 Persen

Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuan sebesar 4,5 persen BI merasa percaya diri dalam menjaga amunisi berkat stabilisasi sementara di pasar keuangan. Dengan menyebut langkah di luar kebijakan suku bunga sebagai pelonggaran kuantitatif, BI juga mengumumkan beberapa hal dalam menjaga stabilitas keuangan.

Bank Indonesia memberikan perluasan operasi moneter dengan memperpanjang tenor fasilitas term repo (pinjaman jangka pendek melalui surat berharga pemerintah), menurunkan rasio cadangan wajib rupiah perbankan sebesar 200 bps. Selain itu, BI juga mengambil langkah pelonggaran kuantitatif untuk mengucurkan likuiditas senilai Rp117,8 triliun. Nilai likuiditas yang telah dikucurkan, termasuk penyuntikan likuiditas dan suntikan dana sebelumnya yang mencapai Rp400 miliar. BI pun memberi jaminan kelanjutan ketiga intervensi (spot, domestic non-deliverable forward - DNDF dan pembelian obligasi).

Baca juga : Ini Kebijakan Bank Indonesia dalam Memitigasi Dampak Covid-19

Laporan dari DBS Group Research menyebutkan, BI mengambil langkah berhati-hati terkait pertumbuhan jangka pendek, dengan menyebutkan kemungkinan penurunan pada triwulan kedua hingga ketiga 2020 sebelum stabil pada triwulan keempat. Prakiraan pertumbuhan 2020 direvisi menjadi 2,3 persen (dari 4,2-4,6 persen), sejalan dengan pemerintah, sementara inflasi diperkirakan sesuai target. Defisit transaksi berjalan diperkirakan menyempit menjadi 1,5 persen dari PDB.

DBS Group Research menduga itu mencerminkan tidak hanya ekspor rendah, tetapi juga penurunan impor karena aktivitas domestik melemah. Bila pasar obligasi dan rupiah tetap stabil, diperkirakan BI tetap membuka peluang penurunan suku bunga lagi pada catur wulan ini. “Kami mempertahankan perkiraan kami akan pemangkasan 50 bps tahun ini mengingat risiko terhadap pertumbuhan,” tulis laporan DBS Group Research.

Baca juga : Kebijakan Countercyclical untuk Menjaga Perekonomian Nasional

Ramalan pemerintah mencerminkan pesimisme jangka pendek, tetapi optimisme ke depan. Untuk 2021, PDB diharapkan tumbuh 4,5-5,5 persen dan inflasi kembali ke kisaran target 2-4 persen. Defisit fiskal juga diperkirakan turun kembali ke kisaran 3-4 persen, membuka jalan bagi pemberlakuan kembali batas yang diwajibkan, sebesar 3 persen pada 2023.


Laporan ini juga menyinggung dampak ekonomi dari pandemi Covid-19. Penularan virus corona di Indonesia masih terus meningkat. Hal ini menunjukkan kurva pandemi belum melandai. Sementara pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti di DKI Jakarta.

Sebagai contoh, semua tempat wisata di Jakarta ditutup, pertemuan dan acara keagamaan atau pernikahan dilarang, sementara ujian sekolah dibatalkan. Sembilan kota dan kabupaten lagi juga melakukan penutupan sebagian. Tetapi, mereka tidak melakukan penutupan total.

Baca juga : Perbankan Diminta Batasi Layanan Interaksi Secara Langsung

DBS Group Research mencatat, pengeluaran layanan kesehatan Indonesia (saat ini dalam dolar AS, per kapita) lebih rendah dibandingkan dengan kebanyakan mitra regionalnya. Oleh karena itu, peningkatan infeksi dapat membebani sistem kesehatan, menggarisbawahi kebutuhan untuk menaikkan pengeluaran di luar peningkatan khusus sebanyak satu kali untuk mengakomodasi pengeluaran yang disebabkan oleh Covid-19.

Perkiraan pertumbuhan di Indonesia tetap 2,5 persen untuk 2020, tetapi risiko perlambatan masih ada. Perekonomian tidak hanya menghadapi dampak dari perekonomian global yang loyo, tapi juga dampak dari pembatasan dalam negeri yang akan menurunkan konsumsi dan permintaan. Dukungan kuat moneter dan fiskal sedang disiapkan yang akan membantu meredam perlambatan pertumbuhan namun tidak akan dapat membalikkan arus.

Baca juga : QRIS Beri Kemudahan Penjual dan Pembeli Bertransaksi Digital

Dampak terhadap tekanan rupiah selama pandemi virus corona memperlihatkan ciri-ciri krisis keuangan global. Resesi global memicu depresiasi rupiah tajam. Dengan asumsi virus corona mencapai puncaknya pada sekitar musim panas, diikuti oleh pemulihan pasca-pandemi pada paruh kedua 2020, diperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di bawah 16.000 sebelum bergerak ke bawah 15.000 selama pemulihan pada 2021.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
April 22, 2020, 6:20 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.