Kenapa Keuangan Justru Menipis Saat #DiRumahAja?

Kenapa Keuangan Justru Menipis Saat #DiRumahAja?

Semenjak hadirnya virus Covid-19 pada awal Maret 2020 sudah banyak sekali dampaknya pada sektor perekonomian Indonesia. Para pelaku bisnis banyak yang merumahkan pekerjanya guna menekan biaya. Data Kemenaker mencatat jumlah pekerja formal yang terkena PHK sebanyak 212.394. Sedangkan yang dirumahkan dengan status digaji sebagian ataupun tidak digaji sama sekali telah mencapai 1.205.191 pekerja.

Kebijakan pemerintah untuk meminta Anda tetap beraktivitas di rumah atau work from home yang sudah berjalan sebulan ini, tanpa sadar sudah mengganggu arus pemasukan dan pengeluaran. Bagi yang mungkin sudah diberhentikan atau dirumahkan oleh perusahaannya, mau tidak mau jadi kehilangan pemasukan bulanan. Sedangkan yang masih mendapat gaji bulanan, tanpa sadar juga melakukan konsumsi yang tidak diperlukan bahkan melebihi jatah ‘jajan’ dari hari biasa.

Baca juga : Penyebab Boros Saat Work From Home (WFH)

Di sisi lain, Anda masih perlu melakukan transaksi harian dan bulanan seperti pembelian barang kebutuhan sehari-hari via online, pembayaran internet yang jadi penting selama work from home atau sekadar top up ojek online untuk beli makanan kesukaan. Oleh karena itu sangat penting menekankan bertransaksi secara cermat selama masa pandemi ini.

CEO OY! Indonesia Jesayas Ferdinandus mengatakan, terkadang Anda masih belum sadar kalau transaksi sehari-hari bisa menimbulkan biaya ekstra di saat sebenarnya bisa banget untuk dihemat. Di masa yang tidak stabil ini, masyarakat untuk bisa lebih bijak dalam bertransaksi termasuk mengatur keuangan dan terkontrol dengan baik.


Salah satu pengeluaran sehari-hari yang dapat ditekan misalnya biaya transfer antarbank atau top up e-wallet. Coba Anda bayangkan jika sehari bertransaksi hingga lima kali dan per transaksi dikenakan biaya hingga Rp6.500 berapa banyak pemborosan yang terjadi?

“Apalagi kita akan sering melakukan pembelian online dan perlu melakukan top up e-wallet atau e-money. OY! hadir untuk lebih membantu masyarakat dengan fitur transaksi antarbank dan top up yang bebas biaya admin agar pengeluaran menjadi lebih efisien.” ungkap Jesayas.

Baca juga : Cara Mengelola Keuangan Selama Pandemi Covid-19

OY! juga memudahkan pengguna untuk memantau pengeluaran dan pemasukan dari rekeningnya dengan fitur pintar Personal Financial Management (PFM). Bahkan para penggunanya juga dapat melihat kemana uang mereka dikeluarkan sesuai dengan kategori peruntukannya, seperti; apakah ke kebutuhan makanan, belanja e-commerce dan sebagainya.

Di masa pandemi #DiRumahAja seperti ini, tentu tetap ada kebutuhan transfer uang dengan jumlah yang besar di masyarakat, seperti membayar cicilan mobil, DP rumah, bayar sewa rumah, dan lainnya. Di masa wabah ini yang mengharuskan physical distancing, sebaiknya masyarakat menghindari fasilitas umum seperti Bank atau setor tunai di ATM dan menggunakan fasilitas #BankingFromHome.

Oleh karena itu, OY! Indonesia telah menaikkan limit transfer menjadi Rp400 juta sehari untuk setiap pengguna yang membutuhkan transaksi yang lebih banyak dalam jumlah yang lebih besar, sehingga masyarakat dapat melakukan #BankingFromHome tanpa harus ke fasilitas umum seperti ATM atau Bank.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
April 21, 2020, 8:02 a.m.

Comments

Please log in to leave a comment.