Aplikasi Digital Dorong Bisnis UMKM Naik Kelas

Aplikasi Digital Dorong Bisnis UMKM Naik Kelas

Di mulainya era revolusi industri 4.0 kini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku UMKM. Oleh karena itu, para pelaku harus mampu bersaing dengan mengikuti perkembangan teknologi dan memanfaatkan perekonomian digital dalam memasarkan dan menjual produknya.

Pemerintah terus mendorong langkah digitalisasi dalam berbagai kegiatan ekonomi. Salah satu bentuknya adalah Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang diluncurkan Bank Indonesia (BI) sejak 2014. Gerakan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pelaku bisnis dan juga lembaga-lembaga pemerintah untuk menggunakan sarana pembayaran non-tunai dalam melakukan transaksi keuangan.

Baca juga : Bagaimana Platform Digital Mengubah Masa Depan Indonesia?

Bentuk nyatanya adalah Bank Indonesia menghadirkan layanan pembayaran non-tunai dengan menggunakan sistem QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Pemanfaatan aplikasi ini diharapkan pelaku UMKM bisa naik kelas bukan hanya bermain di tingkat lokal tetapi juga internasional.

Sejalan pula dengan rencana Bank Indonesia dalam menggenjot digitalisasi sistem pembayaran pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Cashlez sebagai perusahaan payment aggregator fintech telah berkontribusi di mana sebagian besar mitranya terdiri dari usaha kecil dan mikro.

Baca juga : Virtual Payment, Tren Pembayaran di Era Digital

Cashlez menawarkan penerimaan pembayaran non-tunai dari berbagai sumber dan metode yang berbeda, mulai dari penerimaan kartu yang diterbitkan oleh bank, baik kartu kredit, kartu debit, maupun digital payment seperti Gopay, LinkAja, OVO hingga QR payment berbasis aplikasi pada smartphone.


Founder dan CEO PT Cashlez Worldwide Indonesia Teddy Setiawan Tee menjelaskan, Cashlez tidak hanya menyediakan layanan finansial teknologi yang memudahkan transaksi pembayaran berupa solusi dan ekosistem bisnis saja. Dalam hal ini, Cashlez terus berkontribusi mendorong UMKM untuk naik kelas sehingga mampu bersaing dan berinovasi dengan memanfaatkan teknologi. 

“Kami juga membantu para pelaku usaha untuk terus berkembang melalui kemudahan dari fitur yang kami tawarkan dengan menyediakan one stop solution bagi para pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya,” kata Teddy.

Baca juga : Cashlez Perluas Layanan Pembayaran Virtual Account dan Dompet Elektronik

Sejak 2019, perusahaan payment aggregator fintech ini telah mulai menjalin kerja sama dengan banyak digital payment dalam memudahkan setiap pelaku usaha untuk menerima pembayaran non-tunai. Kerja sama dilakukan dengan brand lokal dan generasi muda dalam memperkenalkan penggunaan non-tunai di kalangan pengusaha UMKM yang baru memulai usaha.

Beberapa brand yang telah menjalin kerja sama dengan Cashlez di antaranya adalah Informa, Gramedia, Fabelio, dan Ternakopi by Kaesang Pangarep. Untuk mendukung upaya keamanan, kenyamanan, dan kecapatan transaksinya, fintech payment gateway ini pun bermitra dengan berbagai bank seperti Bank Mandiri, BNI, Maybank, dan BTPN.

Baca juga : Survei Bank Indonesia: Optimisme Konsumen Desember 2019 Menguat

Sebagai perusahaan teknologi finansial yang pertama tercatat pada fintech office Bank Indonesia pada bulan Maret 2018, PT Cashlez Worldwide Indonesia juga telah mendapatkan izin resmi sebagai penyelenggara Payment Gateway sesuai dengan diterbitkannya surat No.21/142/DKSP/Srt/B tanggal  20 Mei 2019 dari Bank Indonesia sebagai regulator system pembayaran di Indonesia.

Bahkan, pada tahun ini, Cashlez berencana melangsungkan penawaran umum perdana Initial Public Offering (IPO) saham. Selain untuk modal kerja, dana hasil IPO juga untuk mendapatkan pertumbuhan non-organik dengan mengakuisisi perusahaan yang memiliki produk atau service offering yang akan melengkapi ekosistem one stop solution yang ditawarkan ke para konsumen.


Ichwan Hasanudin
ichwan.hasanudin
March 12, 2020, 1:51 p.m.

Comments

Please log in to leave a comment.